“Tak sekadar biofuel, tanaman ini menjanjikan perbaikan lahan, peluang ekonomi, dan arah baru energi hijau dari timur Indonesia”
Lahan Kering, Potensi yang Lama Terabaikan
WAINGAPU, NARASINTT.COM – Di Sumba Timur, tanah kering bukan hal baru. Hamparan luas dengan curah hujan rendah selama ini lebih sering dipandang sebagai keterbatasan ketimbang peluang.
Namun di Breeding Center Matawai Maringu, Kecamatan Kahaungu Eti, cara pandang itu mulai berubah. Di lokasi ini, penanaman perdana pohon Pongamia pinnata menandai dimulainya sebuah eksperimen besar: mengubah lahan marginal menjadi sumber energi masa depan.
Tanaman yang sebelumnya kurang dikenal ini kini dilirik sebagai salah satu kandidat kuat bahan baku biofuel. Kemampuannya bertahan di kondisi ekstrem membuatnya berbeda dari banyak tanaman energi lainnya.
Di tanah yang keras dan minim air, pongamia justru menemukan ruang hidupnya. Akar-akarnya mampu beradaptasi, sekaligus memperbaiki struktur tanah yang selama ini kurang produktif.
Bagi daerah seperti Sumba Timur, karakter ini menjadi kunci. Lahan yang selama ini tidak dimanfaatkan secara optimal kini memiliki peluang untuk dihidupkan kembali.
Kolaborasi Riset dan Tahap Awal Pengembangan
Pengembangan pongamia di Sumba Timur bukan datang tanpa perhitungan. Proyek ini dijalankan oleh PT. Santi Energi Hijau (SEH) bersama , dengan dukungan pemerintah daerah serta riset dari (BRIN).
Kolaborasi ini menggabungkan pendekatan ilmiah dengan pengalaman industri global. Terviva dikenal sebagai pionir dalam pengembangan pongamia, sementara SEH dan BRIN telah lebih dulu melakukan riset terhadap varietas lokal sejak 2021.
Hasilnya mulai diuji di lapangan. Pada fase pertama, penanaman dilakukan di lahan seluas 25 hektare menggunakan bibit lokal terpilih yang telah melalui proses penelitian.
Fase ini tidak hanya soal menanam, tetapi juga mengamati. Pertumbuhan tanaman, metode budidaya yang paling efektif, hingga produktivitas buah akan menjadi bahan evaluasi penting.
Dari sinilah akan terlihat apakah pongamia benar-benar mampu menjadi solusi di lahan marginal, atau hanya sebatas harapan.
President Director SEH, Yusuf Reza Shahab, menyebut pemilihan Sumba Timur dilakukan melalui kajian bersama BRIN. Wilayah ini dinilai memiliki kombinasi ideal antara lahan luas, iklim kering, dan dukungan infrastruktur. “Sumba Timur yang terbaik,” ujarnya singkat.
Selain faktor alam, akses jalan, pelabuhan, dan bandara juga menjadi pertimbangan untuk pengembangan skala industri ke depan.
Energi, Lingkungan, dan Peluang Ekonomi
Keunggulan utama pongamia terletak pada bijinya. Dari sini dihasilkan minyak nabati yang dapat diolah menjadi biofuel, bahkan bioavtur sebagai alternatif bahan bakar penerbangan.
Di tengah kekhawatiran akan menipisnya cadangan energi fosil, sumber energi berbasis tanaman seperti ini menjadi semakin relevan.
Namun manfaat pongamia tidak berhenti di energi. Tanaman ini juga memiliki dampak ekologis dan ekonomi yang lebih luas.
Ia mampu membantu memperbaiki kualitas tanah, menjadikannya lebih subur dari waktu ke waktu. Di sisi lain, hasil sampingannya berpotensi menjadi pakan ternak berprotein hingga bahan baku industri, termasuk obat-obatan.
Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, melihat proyek ini sebagai peluang baru bagi masyarakat.
“Kami menyambut baik karena tanaman ini cocok dengan iklim di Sumba Timur. Kalau berhasil, kita akan kembangkan di areal lain sebagai sumber pendapatan baru,” katanya.
Pernyataan ini menggambarkan harapan yang lebih besar: bahwa pongamia bukan hanya proyek energi, tetapi juga pintu masuk bagi ekonomi baru di wilayah kering.
Ke depan, pengembangan pongamia dirancang tidak berhenti di 25 hektare. SEH dan Terviva menargetkan perluasan hingga ribuan hektare dalam beberapa fase.
Tahap berikutnya bahkan akan melibatkan bibit unggul dari luar yang telah dikembangkan oleh Terviva, untuk meningkatkan produktivitas.
Bagi Terviva, pongamia adalah lebih dari sekadar komoditas energi. Senior Manager mereka, Kevin, menekankan bahwa tanaman ini juga membawa dampak sosial.
“Pongamia tidak hanya untuk minyak, tetapi juga baik untuk lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Di Sumba Timur, proses itu baru saja dimulai. Dari tanah yang selama ini dianggap terbatas, kini tumbuh keyakinan bahwa masa depan energi bisa berakar dari wilayah-wilayah yang sebelumnya terpinggirkan.
Penulis : Tim Redaksi
Editor : Tim Redaksi







