Warga Selatan di Bibir Dermaga Karang; Basah Atau Tenggelam

- Penulis Berita

Rabu, 15 Januari 2025 - 15:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret saat perahu motor yang ditumpangi warga  melintas di arus laut pantai selatan/ Foto; FD

Potret saat perahu motor yang ditumpangi warga melintas di arus laut pantai selatan/ Foto; FD

Hal unik juga ada di sini. Tidak ada kondektur atau penjual tiket. Drama adu nyali kerap terjadi saat pagi dan siang hari.

Sejak pukul 7 pagi, warga yang akan ke Kota sudah menunggu perahu motor di bibir Dermaga Karang. Untuk mencapai perahu motor, menggunakan perantara sampan kecil dengan dua pendayung. Warga yang hendak menumpang harus lompat dari bibir karang dengan resiko basah atau tenggelam

Keperluan mereka beragam. Menjual komoditi, belanja, berobat, mengunjungi keluarga sebagaimana aktivitas manusia pada umumnya.

“Iya saya mau ke Ende, hari ini mau jual Kopra dan cengkeh. Biasanya Kakao, Kemiri, Jambu atau pergi beli beras” Kata Yan, warga Kekasewa saat narasi ntt mencoba bertanya.

Baca Juga:  Pice Kota, Lagu Gawi dan Air Mata Haru; Pesan Rindu Untuk Tetap Terhubung Dengan Tanah Leluhur

Sementara di siang hari, sekitar pukul 12 hingga sore, aktivitas di pantai-pantai itu kembali ramai. Warga yang pergi ke kota telah kembali dengan perahu motor yang sama.

Tidak hanya warga. Biasanya tamu Pemerintah Desa, petugas kesehatan dari Kecamatan ataupun pengunjung lainnya dari Kota.

Di saat itu, perahu motor hanya menambatkan sauh pada dasar Karang laut Selatan. Dengan jarak kurang lebih 500 Meter dari pantai.

Sampan kecil akan bertugas mengantar penumpang ke tepian bibir dermaga karang. Ketika menepi, penumpang harus melompat atau ditarik ke bibir dermaga karang dengan hitungan akurat. Jika salah perhitungan, resiko pastinya basah atau tenggelam.

Baca Juga:  Kado Natal Untuk Korban Erupsi Lewotobi, Pemkot Kupang Donasikan Sumbangan

“Kalau pulang, sampai di sini harus cepat. Kau mau basah atau kau mau tenggelam. Resiko. Ya kalau anak-anak pake Gendong. Kalau barang pake buang. Nanti ada orang yang tunggu juga di pantai. Kami sudah biasa. Kami punya Nasib seperti ini sudah” Sambung Yan.

Kata Yan, hal itu tidak membuat mereka menyerah dan terus berharap ada sentuhan hati dari pemerintah daerah kabupaten Ende, untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jalan menuju wilayah mereka, agar dilema antara pilihan basah atau tenggelam tidak lagi dialami generasi mendatang./**

Berita Terkait

Derai Hujan di Puing Harapan Asra Dewi, Jurnalis Bergerak Bentuk “Koin Untuk Ende”
Pice Kota, Lagu Gawi dan Air Mata Haru; Pesan Rindu Untuk Tetap Terhubung Dengan Tanah Leluhur
Belum Merdeka, Warga Selatan Harus Bertaruh Nyawa
Luka Lucky, Luka Kita Semua
Pesan Cinta Kapolres Ende, Mengawal Semangat Kemerdekaan dari Jalan ke Hati Warga
Menulis dari Sekolah: Upaya Kecil Menumbuhkan Jurnalis Muda di Alsiora
Teriakan dari Desa Habi: Proyek Air Minum Miliaran Rupiah Gagal, Warga Merana, Jaksa Harus Segera Bertindak
SuperSUN, Sinar Harapan Baru Warga Kalamba
Berita ini 72 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 10 Oktober 2025 - 12:34 WITA

Derai Hujan di Puing Harapan Asra Dewi, Jurnalis Bergerak Bentuk “Koin Untuk Ende”

Senin, 29 September 2025 - 16:10 WITA

Pice Kota, Lagu Gawi dan Air Mata Haru; Pesan Rindu Untuk Tetap Terhubung Dengan Tanah Leluhur

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:47 WITA

Belum Merdeka, Warga Selatan Harus Bertaruh Nyawa

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 15:32 WITA

Luka Lucky, Luka Kita Semua

Jumat, 8 Agustus 2025 - 11:15 WITA

Pesan Cinta Kapolres Ende, Mengawal Semangat Kemerdekaan dari Jalan ke Hati Warga

Berita Terbaru

Opini

Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab

Selasa, 14 Apr 2026 - 20:44 WITA