Hal unik juga ada di sini. Tidak ada kondektur atau penjual tiket. Drama adu nyali kerap terjadi saat pagi dan siang hari.
Sejak pukul 7 pagi, warga yang akan ke Kota sudah menunggu perahu motor di bibir Dermaga Karang. Untuk mencapai perahu motor, menggunakan perantara sampan kecil dengan dua pendayung. Warga yang hendak menumpang harus lompat dari bibir karang dengan resiko basah atau tenggelam
Keperluan mereka beragam. Menjual komoditi, belanja, berobat, mengunjungi keluarga sebagaimana aktivitas manusia pada umumnya.
“Iya saya mau ke Ende, hari ini mau jual Kopra dan cengkeh. Biasanya Kakao, Kemiri, Jambu atau pergi beli beras” Kata Yan, warga Kekasewa saat narasi ntt mencoba bertanya.
Sementara di siang hari, sekitar pukul 12 hingga sore, aktivitas di pantai-pantai itu kembali ramai. Warga yang pergi ke kota telah kembali dengan perahu motor yang sama.
Tidak hanya warga. Biasanya tamu Pemerintah Desa, petugas kesehatan dari Kecamatan ataupun pengunjung lainnya dari Kota.
Di saat itu, perahu motor hanya menambatkan sauh pada dasar Karang laut Selatan. Dengan jarak kurang lebih 500 Meter dari pantai.
Sampan kecil akan bertugas mengantar penumpang ke tepian bibir dermaga karang. Ketika menepi, penumpang harus melompat atau ditarik ke bibir dermaga karang dengan hitungan akurat. Jika salah perhitungan, resiko pastinya basah atau tenggelam.
“Kalau pulang, sampai di sini harus cepat. Kau mau basah atau kau mau tenggelam. Resiko. Ya kalau anak-anak pake Gendong. Kalau barang pake buang. Nanti ada orang yang tunggu juga di pantai. Kami sudah biasa. Kami punya Nasib seperti ini sudah” Sambung Yan.
Kata Yan, hal itu tidak membuat mereka menyerah dan terus berharap ada sentuhan hati dari pemerintah daerah kabupaten Ende, untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jalan menuju wilayah mereka, agar dilema antara pilihan basah atau tenggelam tidak lagi dialami generasi mendatang./**







