Laut adalah garis tipis antara hidup dan mati. Hingga kini, dua desa yang dihuni sekitar 3.000 jiwa itu tidak memiliki akses jalan darat.
“Kami ini seperti hidup di luar peta pembangunan,” kata Subandi, tokoh adat setempat.
ENDE,narasintt.com– Pagi baru saja menyingsing di pesisir selatan Kecamatan Ndona. Laut berwarna biru gelap bergulung-gulung, ombak menghantam karang dengan suara menggelegar.
Di tepi pantai, sekelompok warga berdiri, menunggu perahu kayu yang akan membawa mereka ke Kota Ende.
Di antara mereka, terlihat Maria (34), seorang ibu yang menggendong anak bungsunya. Hari itu ia berniat membawa anaknya berobat ke rumah sakit di kota.
Dengan wajah cemas, Maria menatap perahu kecil yang akan segera berlayar.
“Kalau ombak besar, kita tunggu. Tapi kalau tunggu terus, anak bisa tambah sakit,” katanya lirih.
Bagi Maria dan ribuan warga Desa Kekasewa dan Desa Nila, laut bukan sekadar jalur transportasi. Laut adalah garis tipis antara hidup dan mati. Hingga kini, dua desa yang dihuni sekitar 3.000 jiwa itu tidak memiliki akses jalan darat.
Satu-satunya pilihan adalah menyeberangi laut selatan yang terkenal ganas.
Penulis : Redaksi Narasi NTT
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya







