Harmoni dari Kalu Tunas Baru Gereja Kristen Sumba ke-294

- Penulis Berita

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Momen pentahbisan Pendeta Pendeta Theresia Ella Rambu Hada pendeta pertama jemaat Kalu, di Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Kalu, Jumat (1/5/2026).

Momen pentahbisan Pendeta Pendeta Theresia Ella Rambu Hada pendeta pertama jemaat Kalu, di Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Kalu, Jumat (1/5/2026).

WAINGAPU, NARASINTT.COM, – Pagi itu, halaman Gereja Kristen Sumba Jemaat Kalu di Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, sudah penuh sesak bahkan sebelum matahari mencapai puncaknya.

Anak-anak berlarian di antara kaki orang dewasa, para perempuan berbalut kain tenun ikat khas Sumba bergerombol di halaman, sementara para tetua duduk berwibawa dengan betel dan sirih pinang di tangan. Suara gong dan gendang menggelegar, mengabarkan ada momen istimewa.

Jumat, 1 Mei 2026, menjadi hari yang akan dikenang panjang dalam sejarah Gereja Kristen Sumba. Pada hari itu, sebuah jemaat baru resmi lahir, seorang pendeta perempuan pertama ditahbiskan, dan sebuah gedung gereja diresmikan, semua dalam satu perayaan besar yang tak terpisahkan dari denyut budaya Sumba Timur.

Ketua Umum Sinode GKS, Pendeta Marlin Lomi, mengumumkan bahwa GKS Jemaat Kalu resmi menjadi jemaat mandiri ke-294 dalam lingkup sinode, sebuah penanda bahwa GKS yang lahir pada 15 Januari 1947 itu terus bertumbuh hingga ke pelosok-pelosok Sumba.

“Ini bukan sekadar penambahan angka dalam statistik gereja, tetapi pertumbuhan iman yang nyata di tengah masyarakat,” tandas Pendeta Marlin Lomi.

Jauh sebelum khotbah pertama dilantunkan, suasana di halaman GKS Kalu sudah bergetar dengan lantunan budaya yang kuat. Semua mata tertuju pada prosesi masuknya pendeta yang akan ditahbiskan bersama keluarganya ke halaman gereja.

Sebelum melangkah masuk, berlangsung ritual Panggara Taungu, sebuah penyambutan adat khas Sumba Timur. Dua wunang, satu dari pihak keluarga dan satu dari pihak jemaat, melakukan ritual luluku berbalas dalam Bahasa Sumba Kambera. Kata-kata itu meluncur dengan irama yang teratur, seperti puisi lisan yang telah diwariskan turun-temurun.

Baca Juga:  Mie Pedas NL Canteen di Kampus 2 IFTK Ledalero, Pedasnya Bikin Nagih

Sajian sirih pinang mengalir dari tangan ke tangan. Tari-tarian tradisional mengiringi prosesi, tubuh-tubuh penari bergerak mengikuti irama gong dan gendang yang bertalu-talu. Lagu-lagu rohani pun dilantunkan dalam Bahasa Kambera, mempertemukan iman Kristen dengan jiwa lokal Sumba dalam satu harmoni yang tak biasa.

Puncak suasana adat terjadi ketika seekor kerbau dikurbankan. Teriakan dan tepuk tangan menyertai momen itu. Anak-anak berlarian mendekat, penasaran. Para tetua mengangguk, mengenali makna yang tersimpan di balik tradisi leluhur itu.

Pendeta Theresia Ella Rambu Hada, yang baru saja ditahbiskan sebagai pendeta pertama GKS Jemaat Kalu, tidak membiarkan momen itu berlalu tanpa makna teologis. “Kerbau ini bukan sekadar ritual. Ini mengingatkan kita pada pengorbanan sejati,” katanya, “kesediaan untuk ‘mati’ bagi kepentingan sesama.”

Dalam khotbah sulungnya, Pendeta Theresia mengambil gambaran yang dekat dengan keseharian jemaat, paduan suara yang baru saja menaikkan pujian. Sopran, alto, tenor, bas, masing-masing berbeda, namun ketika bergerak bersama lahirlah keindahan.

“Ketika setiap suara menyanyikan sesuai bagiannya, mengikuti partiture bersama-sama dan dipimpin oleh satu dirigen lahirlah harmoni,” tegasnya. “Keindahan tidak muncul karena semua suara itu sama, melainkan karena perbedaan yang bergerak selaras. Jika satu suara ingin menonjolkan diri maka sudah pasti lagunya menjadi sumbang.”

Baca Juga:  Teriakan dari Desa Habi: Proyek Air Minum Miliaran Rupiah Gagal, Warga Merana, Jaksa Harus Segera Bertindak

Mengutip ajaran Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, ia mengingatkan bahwa setiap anggota jemaat punya peran, dari yang tampil di mimbar hingga yang bekerja di belakang layar.

Sambil sesekali menunjuk ke arah ibu-ibu yang melayani konsumsi dan pemuda yang mengatur parkir, ia berkata, “Dunia boleh menghargai yang terlihat dan kuat, tetapi Allah seringkali memakai yang sederhana dan tersembunyi.”

Pendeta Theresia pun menegaskan bahwa martabat seseorang bukan diukur dari jabatan. “Bukan jabatan yang membuat kita mulia, tetapi kesediaan untuk merasakan apa yang dirasakan saudara kita,” ujarnya.

Di penghujung khotbah, ia mengajak seluruh jemaat pada sebuah komitmen. “Jangan biarkan ada anggota yang sakit sendirian. Jangan biarkan ada yang lapar tanpa ada yang tahu. Itulah gereja yang Allah kehendaki,” pungkasnya. Tepuk tangan dan amin serentak memenuhi ruangan dan halaman gereja.

Gong masih berdentang ketika hari mulai sore. Tarian terakhir telah usai. Kain-kain tenun perlahan terlipat. Namun gema khotbah sulung Pendeta Theresia Ella Rambu Hada tinggal lebih lama dari bunyi gendang, bahwa gereja yang sejati bukan yang paling besar gedungnya, melainkan yang paling dalam merasakannya.

Penulis : Tim Redaksi

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita : NarasiNTT.com

Berita Terkait

Derai Hujan di Puing Harapan Asra Dewi, Jurnalis Bergerak Bentuk “Koin Untuk Ende”
Pice Kota, Lagu Gawi dan Air Mata Haru; Pesan Rindu Untuk Tetap Terhubung Dengan Tanah Leluhur
Belum Merdeka, Warga Selatan Harus Bertaruh Nyawa
Luka Lucky, Luka Kita Semua
Pesan Cinta Kapolres Ende, Mengawal Semangat Kemerdekaan dari Jalan ke Hati Warga
Menulis dari Sekolah: Upaya Kecil Menumbuhkan Jurnalis Muda di Alsiora
Teriakan dari Desa Habi: Proyek Air Minum Miliaran Rupiah Gagal, Warga Merana, Jaksa Harus Segera Bertindak
SuperSUN, Sinar Harapan Baru Warga Kalamba
Berita ini 67 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:33 WITA

Harmoni dari Kalu Tunas Baru Gereja Kristen Sumba ke-294

Jumat, 10 Oktober 2025 - 12:34 WITA

Derai Hujan di Puing Harapan Asra Dewi, Jurnalis Bergerak Bentuk “Koin Untuk Ende”

Senin, 29 September 2025 - 16:10 WITA

Pice Kota, Lagu Gawi dan Air Mata Haru; Pesan Rindu Untuk Tetap Terhubung Dengan Tanah Leluhur

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:47 WITA

Belum Merdeka, Warga Selatan Harus Bertaruh Nyawa

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 15:32 WITA

Luka Lucky, Luka Kita Semua

Berita Terbaru

Daerah

Gelar RUPS di Ende, Berikut Agenda Penting Bank NTT

Jumat, 15 Mei 2026 - 11:40 WITA