Luka Lucky, Luka Kita Semua

Avatar photo

- Penulis Berita

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 15:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prada Lucky Namo

Prada Lucky Namo

Ende, narasintt.com – Dalam setiap upacara bendera, kita berdiri tegap, memberi hormat kepada Sang Merah Putih.

Lagu kebangsaan berkumandang, dan kita mengheningkan cipta untuk mengenang para pahlawan yang gugur demi negeri ini.

Mereka yang mengorbankan hidup di medan perang demi mempertahankan kedaulatan bangsa selalu disebut dengan penuh penghormatan.

Namun, bagaimana jika seorang prajurit muda tak gugur karena peluru musuh, tetapi karena kekerasan brutal dari sederat oknum rekan satu seragam yang lebih senior? Apa artinya kata “patriotisme”, jika ternyata bahaya terbesar justru datang dari dalam barisan sendiri?

Prada Lucky Chepril Saputra Namo tidak mati karena ranjau, bom, atau serangan lawan. Ia meninggal dunia karena dianiaya oleh puluhan oknum seniornya, orang-orang yang seharusnya membimbing dan melindunginya, bukan menghajarnya sampai napasnya habis.

Ia bukan gugur sebagai pahlawan di garis depan. Ia gugur karena kebiadaban yang dibungkus dalam sistem dan budaya senioritas yang sudah lama membusuk.

Inilah ironi paling pahit dari tragedi Prada Lucky, tubuhnya dihancurkan bukan oleh musuh bangsa, melainkan oleh mereka yang mengenakan seragam yang sama, mengucap sumpah yang sama, dan berada di bawah panji yang sama.

Kita sudah terlalu sering menoleransi budaya senioritas beracun di institusi-institusi disiplin seperti militer, kepolisian, bahkan sekolah dan universitas. Dari dalih “pembinaan”, berubah menjadi pemukulan. Dari “penguatan mental”, menjadi pelampiasan kekuasaan.

Apa yang terjadi terhadap Prada Lucky adalah bentuk “ekstrem” dari kegagalan sistemik. Saat seorang prajurit muda meregang nyawa karena disiksa oleh seniornya, itu bukan sekadar insiden personal, itu adalah alarm keras akan kegagalan institusi.

Baca Juga:  Pice Kota, Lagu Gawi dan Air Mata Haru; Pesan Rindu Untuk Tetap Terhubung Dengan Tanah Leluhur

Bukan hanya tubuh Prada Lucky yang lebam, tetapi juga kredibilitas lembaga yang membiarkannya terjadi.

Menurut laporan yang kini ramai beredar di media sosial, Prada Lucky awalnya diperiksa di kesatuannya karena dugaan orientasi seksual yang dianggap menyimpang.

Tak ada penjelasan rinci tentang tuduhan tersebut, tapi yang jelas, perlakuan terhadapnya sejak saat itu tak lagi manusiawi.

Ia sempat melarikan diri, mungkin karena takut. Tapi setelah ditemukan, bukannya diberi perlindungan atau pendampingan, ia justru kembali dijebloskan ke sel dan dihajar oleh puluhan orang bahkan ada yang memukulnya dengan selang.

Hari demi hari, siksaan itu berlanjut, bahkan di dalam sel tahanan. Empat hari setelah diperiksa dan dianiaya, kondisinya memburuk. Ia sempat dirawat, sempat tertawa bersama ibu asuhnya, lalu tiba-tiba memburuk dan akhirnya meninggal dunia di ruang ICU RSUD Aeramo.

Ini bukan hanya kekerasan. Ini penyiksaan yang sistematis. Dan yang paling menyedihkan, banyak pihak yang tahu tapi tak menghentikannya. Bukti bahwa kekerasan sudah menjadi “kebiasaan” yang ditoleransi.

Tidak ada penghargaan untuk Prada Lucky. Tidak ada medali di dada jenazahnya. Ia tak dianggap gugur dalam tugas negara, padahal ia sedang menjalani masa baktinya sebagai prajurit. Ia mati dalam kesepian dan pengkhianatan oleh sistem yang seharusnya menjaganya.

Dan lebih dari itu, ada luka yang lebih dalam: nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan ikut dikubur bersamanya.

Baca Juga:  SuperSUN, Sinar Harapan Baru Warga Kalamba

Ketika nyawa menjadi murah hanya karena pangkat dan senioritas, maka siapa sebenarnya musuh yang sedang dilawan oleh institusi pertahanan kita?

Institusi yang besar bukan yang sempurna, tetapi yang mau dan mampu mengakui serta memperbaiki kesalahannya.

Jangan biarkan budaya kekerasan, bullying, dan perploncoan terus hidup dalam sistem. Prajurit dilatih untuk melindungi rakyat, bukan untuk menjadi korban dari sesama saudara sebangsa.

“Luka Lucky” adalah luka kita bersama. Ia simbol dari banyak nama-nama yang tak terdengar, yang mungkin mengalami hal serupa tapi tak pernah terungkap. Kita tak bisa lagi menutup mata.

Sudah terlalu banyak darah muda tumpah bukan karena perang, tetapi karena kegagalan institusi dalam menjaga mereka. Sudah terlalu lama kita menganggap kekerasan sebagai bagian dari “tradisi”. Sudah waktunya kita bertanya, dan menjawab dengan jujur.

Berapa banyak Prada Lucky lagi yang harus mati, sebelum kita sadar bahwa musuh terbesar kita… mungkin bukan yang ada di luar sana, tapi yang diam-diam kita pelihara di dalam?

Keadilan bagi Prada Lucky bukan hanya soal menghukum pelaku. Tapi juga membongkar akar kekerasan yang dibiarkan tumbuh di balik tembok barak, seragam, dan pangkat. Jika hari ini kita membiarkan ini berlalu tanpa koreksi, maka kita semua turut bertanggung jawab atas kematian-kematian yang akan datang.

Karena Luka Lucky… adalah luka kita semua. (*)

Penulis : Redaksi NTTINVESTIGASI

Berita Terkait

Harmoni dari Kalu Tunas Baru Gereja Kristen Sumba ke-294
Derai Hujan di Puing Harapan Asra Dewi, Jurnalis Bergerak Bentuk “Koin Untuk Ende”
Pice Kota, Lagu Gawi dan Air Mata Haru; Pesan Rindu Untuk Tetap Terhubung Dengan Tanah Leluhur
Belum Merdeka, Warga Selatan Harus Bertaruh Nyawa
Pesan Cinta Kapolres Ende, Mengawal Semangat Kemerdekaan dari Jalan ke Hati Warga
Menulis dari Sekolah: Upaya Kecil Menumbuhkan Jurnalis Muda di Alsiora
Teriakan dari Desa Habi: Proyek Air Minum Miliaran Rupiah Gagal, Warga Merana, Jaksa Harus Segera Bertindak
SuperSUN, Sinar Harapan Baru Warga Kalamba
Berita ini 65 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:33 WITA

Harmoni dari Kalu Tunas Baru Gereja Kristen Sumba ke-294

Jumat, 10 Oktober 2025 - 12:34 WITA

Derai Hujan di Puing Harapan Asra Dewi, Jurnalis Bergerak Bentuk “Koin Untuk Ende”

Senin, 29 September 2025 - 16:10 WITA

Pice Kota, Lagu Gawi dan Air Mata Haru; Pesan Rindu Untuk Tetap Terhubung Dengan Tanah Leluhur

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:47 WITA

Belum Merdeka, Warga Selatan Harus Bertaruh Nyawa

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 15:32 WITA

Luka Lucky, Luka Kita Semua

Berita Terbaru