ENDE,narasintt.com – Hujan siang ini turun membasahi Jalan Nangka, Ende NTT membasuh sisa-sisa arang dan debu yang kini menjadi saksi bisu dari sebuah nestapa.
Asra Dewi (43) perempuan paruh baya berdiri mematung di depan apa yang dulunya adalah rumahnya.
Pandangannya menerawang jauh ke puing-puing gosong, seiring rintikan air yang mengalir dari langit, seolah ikut merasakan pedih hatinya.
Udara dingin menusuk tulang, namun dingin di hatinya terasa lebih pekat. Pikirannya melayang tak tentu arah, antara kenangan hangat di rumah yang kini rata dengan tanah, dan masa depan usahanya berjualan kue yang kini terancam.
Bagaimana ia bisa kembali bangkit? Bagaimana ia bisa membuat adonan kue yang renyah tanpa dapur? Bagaimana dia harus membayar ongkos kos yang ditempatinua kini? Bagaimana ia menyekolahkan anaknya?.Semua pertanyaan itu berputar, menjadi badai dalam benaknya.
Sejak api melahap habis satu-satunya warisan orang tuanya itu pada 22 Februari 2025, Asra dan anaknya terpaksa menempati sebuah kamar kos sederhana, jauh dari kenyamanan yang dulu mereka miliki.
Setiap bulan, beban sewa sebesar Rp 600 ribu menjadi pengingat pahit akan realitas barunya. Bantuan dari pemerintah setempat memang sudah tiba, namun bagi Asra, uluran tangan itu masih jauh dari cukup untuk membangun kembali fondasi kehidupannya yang telah hancur.
Ironisnya, puing-puing rumah Asra hanya berjarak sepelemparan batu dari kemegahan Rumah Jabatan Bupati Ende dan Kantor DPRD.
Dua bangunan simbol kekuasaan dan kepedulian itu seolah menjadi latar belakang kontras dari kisah pilu yang dialaminya.
Sebuah potret bisu tentang harapan dan realita yang saling bertabrakan.Namun, di tengah keputusasaan, setitik cahaya hadir.
Kisah pilu Asra Dewi tak luput dari perhatian para jurnalis di Ende. Tergerak oleh kondisi memilukan ini, mereka berinisiatif membentuk sebuah komunitas peduli bernama “KOIN UNTUK ENDE”.
Komunitas ini hadir sebagai wadah penggalangan dana dan bantuan, bukan hanya untuk Asra Dewi, tetapi juga untuk warga Ende lainnya yang tertimpa musibah dan kesulitan serupa.
“Kami tidak bisa tinggal diam melihat saudara kita kesulitan. Sebagai jurnalis, kami punya tanggung jawab tidak hanya memberitakan, tapi juga menggerakkan kepedulian,” ujar salah seorang inisiator dari “Koin Untuk Ende”.
Dengan semangat gotong royong, warga sekitar pun turut menyatakan kesiapan untuk membantu Asra Dewi.
Mereka siap menjadi pilar-pilar kecil yang menopang Asra agar tak sepenuhnya terpuruk.
Kini, dengan dukungan dari komunitas “Koin Untuk Ende” dan kebersamaan warga, harapan Asra untuk melihat rumah warisannya berdiri kembali semakin membuncah.
Asra Dewi masih menatap hujan. Mungkin ia tak tahu pasti bagaimana esok akan terbentang, namun di setiap tetes air yang jatuh, ada doa dan harapan agar puing-puing itu segera berganti menjadi rumah yang utuh, dan aroma kue buatannya kembali memenuhi sudut-sudut Jalan Nangka.
Harapan dukungan dari berbagai pihak menjadi angin segar yang meniupkan optimisme di tengah badai kehidupannya./***
Penulis : Tim
Editor : Redaksi








