Pice Kota, Lagu Gawi dan Air Mata Haru; Pesan Rindu Untuk Tetap Terhubung Dengan Tanah Leluhur

- Penulis Berita

Senin, 29 September 2025 - 16:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Malam itu, di tengah nyanyian dan tepuk tangan, Pice membuktikan bahwa harmoni yang sejati adalah ketika kita tetap terhubung dengan tempat di mana kita berasal.

ENDE—Rasa bangga dan haru menjadi satu di Minggu malam(28/09/2025), saat Pice Kota, artis nasional kebanggaan Nusa Tenggara Timur, hadir di Ende, kampung halaman leluhurnya.

Di Lapangan Mako Brimob Ende, ia tampil di tengah ribuan penonton dalam konser perayaan Hari Ulang Tahun ke-60 SMKN 1 Ende. Di bawah tajuk Mari Menyanyi di Musik Kita Sendiri.

Pice tidak hanya menghibur, tapi juga membawa pesan mendalam tentang asal-usul dan kebanggaan daerah.​

Sejak awal, suasana sudah dipenuhi energi yang luar biasa. Para penonton, mulai dari siswa, guru, alumni, hingga masyarakat umum, memadati lapangan.

Mereka menanti momen di mana Pice, yang berasal dari Wolokota, Ndona, tampil melantunkan lagu-lagu terbaiknya.​

Ketika Pice berdiri di panggung, sorak sorai penonton membuncah. Ribuan penonton meneriakkan namanya.

Pice pun menyapa mereka dengan hangat dan menceritakan hubungan emosionalnya dengan Ende.

“Saya masih ada darah Ende, kita rumah keluarga di Wolokota. Opa saya yang menghadirkan Bapa saya berasal dari Wolokota,” ungkap Pice, membuat penonton bersorak lebih kencang.

Baca Juga:  Derai Hujan di Puing Harapan Asra Dewi, Jurnalis Bergerak Bentuk "Koin Untuk Ende"

Banyak dari mereka yang menyeka air mata haru.​ Suasana hening seketika saat Pice menenteng gitar dan membawakan lagu yang kental akan budaya Ende. Ia membawakan lagu Gawi, kebanggaan warga Ende, yang berjudul “Gaga Bo’o Kewi Ae.”

Lagu itu dibawakan dengan aransemen musik klasik yang mengalun merdu, membius ribuan penonton. Sebagian penonton terdiam, seolah tersihir oleh suara Pice yang akrab di telinga mereka.

Tak sedikit yang histeris dan menangis terharu, terutama para ibu dan bapak yang matanya memancarkan kebanggaan tak terlukiskan.

Bagi mereka, kehadiran Pice bukan sekadar pertunjukan, tapi sebuah pengingat bahwa anak-anak dari Ende pun bisa bersinar di panggung nasional tanpa melupakan akarnya.

​Dampak emosional dari penampilan Pice pun meluas hingga ke media sosial. Banyak komentar merinding dan haru terpantau di berbagai platform.

Salah satunya datang dari seniman Ende Lio, Mokhtar Wanda, yang menuliskan.

“Merinding Lagu Kita Ende Lio dibawakan anak Pice. Jato Air Mata. Terimakasih Wolokota, mengalir darah leluhur ke cucunya. Pice Aset Kita Ende Lio.”ungkapnya.

Baca Juga:  Menulis dari Sekolah: Upaya Kecil Menumbuhkan Jurnalis Muda di Alsiora

​Rasa bangga juga disampaikan oleh para perantau asal Ende. Melalui akun Facebook-nya, seorang perantau menuliskan komentarnya.

“Bangga dan haru. Aji (Ade) Pice. Lagu dan suaramu itu, buat kami di perantauan menangis dan rindu pulang kampung.”​

Pice sendiri tak kuasa menahan haru. Beberapa kali ia berhenti sejenak, menatap kerumunan yang memadati lapangan.

Raut wajahnya dipenuhi rasa bangga dan terharu yang mendalam. Bagi Pice, bernyanyi di hadapan penonton di kampung halamannya adalah sebuah persembahan tulus.

Melalui lagu Gawi di malam itu, Pice seolah mengatakan bahwa ia selalu membawa setiap keping rindu akan tanah leluhurnya itu bersamanya, ke mana pun ia melangkah.​

Konser ini bukan hanya tentang perayaan ulang tahun sekolah, tetapi juga tentang pengakuan dan apresiasi terhadap identitas lokal.

Malam itu, di tengah nyanyian dan tepuk tangan, Pice membuktikan bahwa harmoni yang sejati adalah ketika kita tetap terhubung dengan tempat di mana kita berasal.

Penulis : Tim

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Harmoni dari Kalu Tunas Baru Gereja Kristen Sumba ke-294
Derai Hujan di Puing Harapan Asra Dewi, Jurnalis Bergerak Bentuk “Koin Untuk Ende”
Belum Merdeka, Warga Selatan Harus Bertaruh Nyawa
Luka Lucky, Luka Kita Semua
Pesan Cinta Kapolres Ende, Mengawal Semangat Kemerdekaan dari Jalan ke Hati Warga
Menulis dari Sekolah: Upaya Kecil Menumbuhkan Jurnalis Muda di Alsiora
Teriakan dari Desa Habi: Proyek Air Minum Miliaran Rupiah Gagal, Warga Merana, Jaksa Harus Segera Bertindak
SuperSUN, Sinar Harapan Baru Warga Kalamba
Berita ini 189 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:33 WITA

Harmoni dari Kalu Tunas Baru Gereja Kristen Sumba ke-294

Jumat, 10 Oktober 2025 - 12:34 WITA

Derai Hujan di Puing Harapan Asra Dewi, Jurnalis Bergerak Bentuk “Koin Untuk Ende”

Senin, 29 September 2025 - 16:10 WITA

Pice Kota, Lagu Gawi dan Air Mata Haru; Pesan Rindu Untuk Tetap Terhubung Dengan Tanah Leluhur

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:47 WITA

Belum Merdeka, Warga Selatan Harus Bertaruh Nyawa

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 15:32 WITA

Luka Lucky, Luka Kita Semua

Berita Terbaru