Oleh: Sr. Yosefina Itu, OSU; Dosen STPM Santa Ursula Ende, Mahasiswi Doktoral Prodi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta.
Di tengah riuh wacana pendidikan nasional tentang kurikulum yang terus berganti, asesmen yang makin kompleks, dan peringkat yang kerap dijadikan tolok ukur, kita sering lupa pada satu kenyataan sederhana: pendidikan sejatinya tumbuh dan bertahan justru di ruang-ruang yang sunyi.
Di desa-desa, di wilayah pinggiran, di sekolah-sekolah yang bekerja dengan segala keterbatasan, namun setia menjaga api belajar agar tidak padam.
SDI Malamude Were, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada NTT, adalah salah satu ruang sunyi itu.
Lima puluh tahun keberadaannya bukan sekadar angka usia, melainkan kisah panjang tentang kehadiran, ketekunan, dan kesetiaan.
Pesta Emas sekolah ini patut dibaca bukan hanya sebagai perayaan, melainkan sebagai ruang refleksi tentang makna pendidikan itu sendiri.
Filsuf Socrates pernah berkata, “Hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dihidupi.” Pesan ini terasa sangat relevan bagi dunia pendidikan.
Sekolah, seperti halnya manusia, perlu sesekali berhenti dan bertanya: untuk siapa ia hadir, nilai apa yang ia rawat, dan dampak apa yang ia tinggalkan bagi masyarakat sekitarnya.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya







