Ketika akses terbatas dan kehadiran negara terasa minimal, sekolah justru menjadi wajah paling nyata dari negara di tingkat lokal.
Namun sayangnya, peran sosial yang sangat penting ini jarang tercermin dalam cara kita menilai keberhasilan pendidikan. Sekolah lebih sering diukur dari capaian akademik, bukan dari ketekunannya menjaga kehidupan sosial komunitas agar tetap utuh.
Kisah Ruang Singgah yang Membentuk Kesadaran
Bagi penulis, SDI Malamude Were bukan sekadar objek refleksi, melainkan bagian dari perjalanan hidup. Pada tahun 1985, ketika penulis menjadi siswi SMP Negeri Golewa Were angkatan ke-3, keterbatasan sarana membuat proses pembelajaran selama satu tahun harus dilakukan dengan memanfaatkan gedung SDI Malamude Were.
Gedung itu menjadi ruang singgah pendidikan. Tempat kami belajar, bertumbuh, dan perlahan menata masa depan. Ia sederhana, tanpa fasilitas mewah, namun penuh makna.
Dari pengalaman itulah penulis belajar bahwa pendidikan sejati tidak selalu hadir dalam bentuk yang sempurna, melainkan dalam kesediaan untuk membuka pintu dan berbagi ruang.Kisah semacam ini mungkin tidak tercatat dalam laporan kebijakan atau arsip resmi.
Namun justru di sanalah letak kekuatan sosial pendidikan: pada praktik-praktik kecil yang menjaga agar proses belajar tidak terputus. SDI Malamude Were, pada masa itu, menjalankan peran pendidikan yang melampaui mandat formalnya dengan sunyi, tanpa sorotan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya







