May Day 2026, FMN Kupang Gandeng BEM Unwira Gelar Diskusi Publik

- Penulis Berita

Jumat, 1 Mei 2026 - 21:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sementara, Sekretaris Apindo NTT, Toni Angtariksa Dima, mengakui bahwa perlindungan pekerja masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Namun ia menilai ada hambatan administratif, terutama pada kelengkapan data pekerja yang berdampak pada proses BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.

Di sisi lain, Toni menyoroti beratnya beban pengusaha di NTT akibat tingginya biaya logistik dari luar daerah yang berdampak pada harga produksi.

“Biaya pengiriman terus naik, tetapi pengusaha juga ditekan agar tidak menaikkan harga. Ini menciptakan tekanan ekonomi tersendiri,” ujarnya.

Argumen Apindo soal mendorong mahasiswa menjadi pengusaha menuai kritik tajam dari akademisi FISIP Undana, Ernestus Holivil.

Baca Juga:  HUT ke 80 POMAD, Kapten Stefanus Ajak Masyarakat Kawal Disiplin TNI AD

Ernestus menilai narasi “semua harus jadi pengusaha” adalah penyederhanaan yang berbahaya di tengah krisis perlindungan pekerja.

“Saya tidak mengajar mahasiswa untuk sekadar menjadi pengusaha. Saya mengajar mereka untuk berpikir kritis. Indonesia bukan negara yang bisa dilihat semata dari logika kapital,” katanya.

Ia menyoroti model kerja digital seperti pengemudi ojek online yang bekerja siang malam, tetapi tetap tidak memiliki perlindungan ketenagakerjaan yang jelas.

“Orang bekerja tanpa batas waktu, tetapi negara seolah menutup mata. Ini bukan sekadar soal kerja, ini soal martabat manusia,” tegasnya.

Ernestus juga mengkritik praktik ketenagakerjaan sektor informal, termasuk pekerja warung yang kerap bekerja tanpa jaminan upah layak dan perlindungan.

Baca Juga:  Kesetrum Saat Panjat Tiang Listrik, Pekerja PLN di Sikka NTT Tewas

Tak hanya itu, ia menyinggung minimnya akses tenaga kerja lokal terhadap lapangan pekerjaan, termasuk di kawasan wisata premium seperti Komodo.

“Negara sering bersembunyi di balik alasan skill dan kompetensi. Padahal masalah utamanya adalah kesempatan kerja. Kalau akses ditutup, bagaimana tenaga lokal bisa tumbuh?” katanya.

Ia juga mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam kebijakan penempatan pekerja migran Indonesia ke luar negeri, mengingat banyak pekerja Indonesia masih rentan eksploitasi dan belum mendapat perlindungan yang layak/***

Penulis : Fidel Dari

Editor : Redaksi

Berita Terkait

800 Meter dari Listrik Negara: Loworongga Masih Gelap, Warga Siap Pikul Tiang
Tekan Angka Kecelakaan di Ende, Satlantas Perketat Edukasi dan Penegakan Hukum
Juli Laiskodat Salurkan Sembako Untuk Perempuan Dan Lansia Di Ende
Jalan Sehat dan Layanan Kesehatan Gratis Awali Harhubnas oleh Dishub Ende
Rumah Rusak, Data Belum Merata; Warga Maurongga Masih di Tenda Darurat
Tim Relawan RSJ Naimata Kupang Gelar Trauma Healing untuk Anak Korban Gempa di Ngada
HARHUBNAS ke-55 Tingkat Provinsi NTT Resmi Digelar Besok di Ende
BPBD Ende Klaim Posko Pengungsian Terpusat Kosong, 500 Warga Nioniba Masih di Tenda
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 06:43 WITA

800 Meter dari Listrik Negara: Loworongga Masih Gelap, Warga Siap Pikul Tiang

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:59 WITA

Tekan Angka Kecelakaan di Ende, Satlantas Perketat Edukasi dan Penegakan Hukum

Jumat, 11 September 2026 - 16:01 WITA

Juli Laiskodat Salurkan Sembako Untuk Perempuan Dan Lansia Di Ende

Jumat, 11 September 2026 - 09:18 WITA

Jalan Sehat dan Layanan Kesehatan Gratis Awali Harhubnas oleh Dishub Ende

Jumat, 11 September 2026 - 07:21 WITA

Rumah Rusak, Data Belum Merata; Warga Maurongga Masih di Tenda Darurat

Berita Terbaru