OPINI-Kita hidup di zaman yang serba riuh. Setiap detik, notifikasi, video, dan opini baru membanjiri layar. Dunia digital telah menjadi semesta kedua, tempat jutaan suara bersahutan, dan batas antara iman, opini, dan emosi sering kali kabur.
Namun, di tengah riuhnya kebisingan maya ini, kita—kaum muda digital—memiliki panggilan istimewa: membawa cahaya iman dan semangat damai ke dalam ruang yang sering kali gelap oleh kebencian.
Feed Bukan Sekadar Alat Eksis, Tapi Ruang Pewartaan 5G
Dulu, dialog antar agama terjadi di ruang formal seperti aula atau masjid. Sekarang, ruang dialog itu bernama feed, DM, dan comment section. Setiap unggahan, story, atau tweet bisa menjadi jembatan lintas iman atau malah red flag yang menciptakan jarak. Semuanya bergantung pada vibes dan attitude kita.
Bagi saya, media sosial bukan sekadar tempat cari hiburan. Ini adalah ruang pewartaan iman dan kemanusiaan versi 5G. Kita bisa berbagi kutipan Kitab Suci yang menenangkan, membuat video persahabatan lintas agama, atau menulis opini yang menyejukkan. Lewat cara-cara ini, media sosial dapat berubah dari sekadar alat untuk “eksis” menjadi “ruang kesaksian iman yang hidup.”
Jebakan Digital: Pilih Jadi Green Flag atau Ikut Arus Kebencian?
Perjalanan iman di dunia maya tidak semulus scrolling TikTok. Dunia digital penuh jebakan: hoaks, cancel culture, akun toxic, dan komentar netizen satu baris yang bisa terasa lebih menyakitkan dari debat panjang.
Di sinilah ujian kedewasaan digital kita. Apakah kita akan ikut arus kebencian, atau memilih untuk menjadi green flag (sinyal positif) di tengah feed yang penuh noise?
Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti menyerukan bahwa dunia butuh arsitek dialog dan pembangun persahabatan sosial. Kita mungkin bukan pemimpin agama, tetapi setiap postingan, like, komen, dan share kita adalah wujud nyata dari misi damai. Dengan digital empathy, kita bisa menjadi influencer of peace.
Halaman : 1 2 Selanjutnya
Home / Opini
Faith In The Feed: Panggilan Kaum Muda Digital Menjadi Arsitek Damai
Admin - Penulis Berita
Jumat, 31 Oktober 2025 - 07:42 WITA
URL berhasil dicopy
URL berhasil dicopy
Gerardus Bata Atulolon
OPINI-Kita hidup di zaman yang serba riuh. Setiap detik, notifikasi, video, dan opini baru membanjiri layar. Dunia digital telah menjadi semesta kedua, tempat jutaan suara bersahutan, dan batas antara iman, opini, dan emosi sering kali kabur.
Namun, di tengah riuhnya kebisingan maya ini, kita—kaum muda digital—memiliki panggilan istimewa: membawa cahaya iman dan semangat damai ke dalam ruang yang sering kali gelap oleh kebencian.
Feed Bukan Sekadar Alat Eksis, Tapi Ruang Pewartaan 5G
Dulu, dialog antar agama terjadi di ruang formal seperti aula atau masjid. Sekarang, ruang dialog itu bernama feed, DM, dan comment section. Setiap unggahan, story, atau tweet bisa menjadi jembatan lintas iman atau malah red flag yang menciptakan jarak. Semuanya bergantung pada vibes dan attitude kita.
Bagi saya, media sosial bukan sekadar tempat cari hiburan. Ini adalah ruang pewartaan iman dan kemanusiaan versi 5G. Kita bisa berbagi kutipan Kitab Suci yang menenangkan, membuat video persahabatan lintas agama, atau menulis opini yang menyejukkan. Lewat cara-cara ini, media sosial dapat berubah dari sekadar alat untuk “eksis” menjadi “ruang kesaksian iman yang hidup.”
Jebakan Digital: Pilih Jadi Green Flag atau Ikut Arus Kebencian?
Perjalanan iman di dunia maya tidak semulus scrolling TikTok. Dunia digital penuh jebakan: hoaks, cancel culture, akun toxic, dan komentar netizen satu baris yang bisa terasa lebih menyakitkan dari debat panjang.
Di sinilah ujian kedewasaan digital kita. Apakah kita akan ikut arus kebencian, atau memilih untuk menjadi green flag (sinyal positif) di tengah feed yang penuh noise?
Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti menyerukan bahwa dunia butuh arsitek dialog dan pembangun persahabatan sosial. Kita mungkin bukan pemimpin agama, tetapi setiap postingan, like, komen, dan share kita adalah wujud nyata dari misi damai. Dengan digital empathy, kita bisa menjadi influencer of peace.
Halaman : 1 2 Selanjutnya
Berita Terkait
Berita Terbaru
Daerah
BULOG NTT Berhasil Salurkan Bantuan Pangan Ke Berbagai Pelosok Selama 3 Bulan
Daerah
Resmi Berstatus Satker Bawaslu Ende Siap Tempati Kantor Baru
Daerah
HUT ke 80 POMAD, Kapten Stefanus Ajak Masyarakat Kawal Disiplin TNI AD
Daerah
Sambut HUT Bhayangkara; Polres Ende Salurkan Air Bersih Untuk Warga Onekore
Daerah
Sasar Pengendara Mabuk dan Knalpot Brong, Satlantas Polres Ende Gelar Operasi Patuh 2026 Mulai 8 Juni
Daerah
Kabar Gembira! PELNI Tebar Diskon Tiket 30 Persen Selama Libur Sekolah 2026