Faith In The Feed: Panggilan Kaum Muda Digital Menjadi Arsitek Damai

Avatar photo

- Penulis Berita

Jumat, 31 Oktober 2025 - 07:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerardus Bata Atulolon

Gerardus Bata Atulolon

OPINI-Kita hidup di zaman yang serba riuh. Setiap detik, notifikasi, video, dan opini baru membanjiri layar. Dunia digital telah menjadi semesta kedua, tempat jutaan suara bersahutan, dan batas antara iman, opini, dan emosi sering kali kabur.

Namun, di tengah riuhnya kebisingan maya ini, kita—kaum muda digital—memiliki panggilan istimewa: membawa cahaya iman dan semangat damai ke dalam ruang yang sering kali gelap oleh kebencian.

Feed Bukan Sekadar Alat Eksis, Tapi Ruang Pewartaan 5G

Dulu, dialog antar agama terjadi di ruang formal seperti aula atau masjid. Sekarang, ruang dialog itu bernama feed, DM, dan comment section. Setiap unggahan, story, atau tweet bisa menjadi jembatan lintas iman atau malah red flag yang menciptakan jarak. Semuanya bergantung pada vibes dan attitude kita.

Baca Juga:  POKIR DALAM POLITIK ANGGARAN

Bagi saya, media sosial bukan sekadar tempat cari hiburan. Ini adalah ruang pewartaan iman dan kemanusiaan versi 5G. Kita bisa berbagi kutipan Kitab Suci yang menenangkan, membuat video persahabatan lintas agama, atau menulis opini yang menyejukkan. Lewat cara-cara ini, media sosial dapat berubah dari sekadar alat untuk “eksis” menjadi “ruang kesaksian iman yang hidup.”

Jebakan Digital: Pilih Jadi Green Flag atau Ikut Arus Kebencian?

Perjalanan iman di dunia maya tidak semulus scrolling TikTok. Dunia digital penuh jebakan: hoaks, cancel culture, akun toxic, dan komentar netizen satu baris yang bisa terasa lebih menyakitkan dari debat panjang.

Baca Juga:  Pengalihan Anggaran, Apakah Penyimpangan Atau Bukan?

Di sinilah ujian kedewasaan digital kita. Apakah kita akan ikut arus kebencian, atau memilih untuk menjadi green flag (sinyal positif) di tengah feed yang penuh noise?

Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti menyerukan bahwa dunia butuh arsitek dialog dan pembangun persahabatan sosial. Kita mungkin bukan pemimpin agama, tetapi setiap postingan, like, komen, dan share kita adalah wujud nyata dari misi damai. Dengan digital empathy, kita bisa menjadi influencer of peace.

Berita Terkait

Menanti Kejujuran Pengelolaan Parkir di Balik Hilangnya Pasukan Orange
Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab
MEMBUKA POTENSI ASET DAERAH, DORONG PENINGKATAN PAD KABUPATEN ENDE
Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial
Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran
Taman Kota dan Jalan yang Terputus: Ujian Keadilan Pembangunan di Ende Catatan Kecil Untuk Pemkab Ende
Sekolah Sebagai Ruang Singgah Peradaban: Refleksi 50 Tahun SDI Malamude Were
Analisis Kebijakan Affirmative Action, Kuota 30% Keterwakilan Perempuan Di Parlemen
Berita ini 365 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 09:29 WITA

Menanti Kejujuran Pengelolaan Parkir di Balik Hilangnya Pasukan Orange

Selasa, 14 April 2026 - 20:44 WITA

Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:10 WITA

MEMBUKA POTENSI ASET DAERAH, DORONG PENINGKATAN PAD KABUPATEN ENDE

Senin, 9 Februari 2026 - 18:56 WITA

Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:34 WITA

Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran

Berita Terbaru

Jajaran Bawaslu Ende Saat Audiens Bersama Bupati Ende/ foto: Fide Dari

Daerah

Resmi Berstatus Satker Bawaslu Ende Siap Tempati Kantor Baru

Senin, 29 Jun 2026 - 11:56 WITA