Faith In The Feed: Panggilan Kaum Muda Digital Menjadi Arsitek Damai

Avatar photo

- Penulis Berita

Jumat, 31 Oktober 2025 - 07:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerardus Bata Atulolon

Gerardus Bata Atulolon

Tantangan FOMO: Ketika Validasi Mengalahkan Makna

Kekuatan kaum muda adalah kreativitas dan konektivitas. Kita tahu cara membuat pesan serius tetap nyantol melalui meme, reels, atau thread yang relate. Menjadi pembawa damai tidak harus kaku; cukup dimulai dari hal kecil: memilih kata dengan bijak, membagikan konten yang healing, dan menanggapi perbedaan tanpa menjadi judgemental (menghakimi).

Tantangan lain yang tak kalah berat adalah FOMO (Fear of Missing Out), yang membuat kita mengejar likes dan validasi, seolah nilai diri tergantung pada seberapa sering kita muncul di feed. Padahal, iman justru mengajarkan kita untuk slow down, berpikir dulu sebelum share, dan tidak gampang hanyut dalam arus viral yang belum tentu bermakna.

Sikap diam, reflektif, dan penuh makna itu jauh lebih cool daripada ikut ribut di kolom komentar. Daripada posting cuma biar eksis, kenapa tidak posting sesuatu yang membuat orang merasa lebih tenang atau lebih dekat pada nilai-nilai kebaikan?

Keluar dari Bubble of Comfort Algoritma

Kita juga perlu sadar bahwa algoritma media sosial sering menciptakan bubble of comfort, dunia kecil yang hanya memantulkan opini yang kita sukai. Jika kita tidak hati-hati, ruang dialog akan makin sempit.

Baca Juga:  Pembangunan Berkelanjutan atau Eksploitasi Terselubung?

Dialog sejati tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari keberanian untuk memahami yang berbeda. Ini berarti kita harus berani keluar dari gelembung digital dan mulai mendengarkan suara lain.

Iman yang hidup di era digital bukanlah iman yang diam, tapi iman yang berani: Berani bersuara dengan kasih, berani berbeda tanpa memecah. Ketika kita menghadirkan kasih, kejujuran, dan hormat di dunia maya, kita sedang memperlihatkan wajah kemanusiaan yang sejati di balik layar kaca.

Baca Juga:  Geotermal Mataloko: Antara Potensi Hijau dan Suara Keresahan Masyarakat

Dunia digital adalah cermin hati manusia modern. Tugas kita bukan hanya menjadi pengguna, tetapi penjaga makna dan mereka yang tetap menyalakan terang di tengah komentar yang gelap. Karena dunia ini tidak kekurangan suara, tetapi sering kekurangan jiwa.

Jadi muda di era digital berarti menjadi terang di layar dunia. Kita mungkin tidak bisa mengubah seluruh internet, tetapi kita bisa mengubah satu hati lewat satu postingan penuh kasih. Pada akhirnya, faith in the feed bukan cuma soal membagikan ayat, tetapi soal bagaimana iman kita tetap real meski hidup di dunia yang serba virtual/***

***Penulis : Gerardus Bata Atulolon/ Mahasiswa Semester 1 IFTK Ledalero

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Menanti Kejujuran Pengelolaan Parkir di Balik Hilangnya Pasukan Orange
Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab
MEMBUKA POTENSI ASET DAERAH, DORONG PENINGKATAN PAD KABUPATEN ENDE
Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial
Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran
Taman Kota dan Jalan yang Terputus: Ujian Keadilan Pembangunan di Ende Catatan Kecil Untuk Pemkab Ende
Sekolah Sebagai Ruang Singgah Peradaban: Refleksi 50 Tahun SDI Malamude Were
Analisis Kebijakan Affirmative Action, Kuota 30% Keterwakilan Perempuan Di Parlemen
Berita ini 385 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 09:29 WITA

Menanti Kejujuran Pengelolaan Parkir di Balik Hilangnya Pasukan Orange

Selasa, 14 April 2026 - 20:44 WITA

Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:10 WITA

MEMBUKA POTENSI ASET DAERAH, DORONG PENINGKATAN PAD KABUPATEN ENDE

Senin, 9 Februari 2026 - 18:56 WITA

Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:34 WITA

Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran

Berita Terbaru