SIKKA, NARASI NTT. COM- Gelombang aksi unjuk rasa kembali mengguncang Kabupaten Sikka. Gabungan mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK), serta perwakilan pedagang pasar Wuring menggelar aksi demonstrasi di depan halaman kantor bupati Sikka, pada Senin (3/11/2025).
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap sejumlah persoalan yang dinilai belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Pantauan media, aksi dimulai dengan penurunan bendera Merah Putih menjadi setengah tiang sebagai simbol duka cita atas kondisi Kabupaten Sikka.
Massa aksi juga membakar lilin di bawah tiang bendera sebagai bentuk keprihatinan.
Ketua GMNI, Wilfridus Iko, dalam orasinya menyampaikan duka cita mendalam terkait krisis dokter anestesi di rumah sakit tipe C. Ia mempertanyakan standar pelayanan kesehatan yang hanya mengandalkan satu dokter anestesi.
“Terkait dokter anestesi rumah sakit tipe C harus memiliki dokter anestesi lebih dari satu. Apakah satu dokter anestesi cukup? Dokter secepatnya menghadirkan! Kami tidak mau korban masyarakat Sikka! Kesehatan adalah hak dasar masyarakat!” tegas Wilfridus Iko.
“Kita butuh yang pasti, dokter harus dua!” teriak Wilfridus Iko, menegaskan tuntutan agar pemerintah segera menghadirkan minimal dua dokter anestesi di RSUD.
Selain masalah kesehatan, aksi ini juga dipicu oleh penolakan keras terhadap dari masyarakat pasar Wuring terhadap penutupan pasar. Sebagai bentuk protes, mereka turut menurunkan bendera setengah tiang dan membakar lilin di bawah tiang bendera kantor bupati.
Salah seorang pedagang pasar Wuring yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya atas kebijakan penutupan pasar.
Ia mempertanyakan alasan pelarangan mencari nafkah dan menyindir pemerintah yang seolah memaksa masyarakat untuk menjadi pencuri atau menunggu bantuan.
“Mau berusaha cari hidup kenapa dilarang? Mau masyarakat jadi pencuri dan pembauk? Atau kami hanya tunggu bantuan pemerintah? Ini ketidakadilan rakyat kecil!” ujarnya dengan nada kesal.
Pedagang tersebut juga menyampaikan kerinduan terhadap sosok bupati yang selama ini belum pernah mereka temui. Mereka berharap bupati dapat datang langsung ke pasar Wuring dan mendengarkan aspirasi mereka.
“Pasar Wuring untuk melancarkan perekonomian kami, kami butuh bapak datang dan temui kami. Kami tidak pernah lihat bupati, kami kangen. Tidak pernah lihat bupati ini, kami baru lihat (di foto),” pungkasnya.
Setelah beberapa saat berorasi di depan kantor bupati, Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, akhirnya hadir di tengah-tengah massa aksi. Bupati kemudian mengajak perwakilan demonstran untuk berdialog di ruang Rokatenda yang berada di lantai dua kantor bupati.
Dalam pertemuan tersebut, Bupati Juventus Prima Yoris Kago menyampaikan beberapa poin penting terkait tuntutan yang diajukan oleh GMNI, BEM IFTK, dan pedagang pasar Wuring.
“Kesepakatan untuk bertemu yang pertama, yah harus digarisbawahi, pemerintah juga dengan masyarakat, dalam keputusan kebijakan selalu untuk kebaikan masyarakat,” ujar Bupati.
Bupati menekankan bahwa pemerintah dalam membuat kebijakan selalu berupaya untuk kebaikan masyarakat dan harus berjalan di atas aturan yang berlaku.
Ia juga menanggapi isu terkait ketiadaan dokter anestesi yang menjadi salah satu tuntutan demonstran.
“Kenapa di flayer menulis tidak ada dokter anestesi? Dokternya ada, yang hari ini menyampaikan basisnya hoax. Dokternya ada, harus memberi informasi yang jujur. Saya sampaikan bahwa hari ini masih ada dokter anestesi, tolong jaga psikologi masyarakat, psikologi pasien, psikologi dokter kita jadikan indikator,” tegasnya.
Bupati mengakui bahwa upaya mendapatkan dokter spesialis, termasuk dokter anestesi, tidaklah mudah. Namun, ia bersyukur dalam waktu dekat akan ada penambahan dokter anestesi dan obgyn. Terkait dokter anestesi.
“Terkait ibahwa isu terkait dokterter sebut sudah clear,’ Tegas Bupati.
Penulis : Irma Rosse
Editor : Redaksi







