Isu “Kebocoran” (Leakage) Ekonomi Pariwisata
Meskipun pariwisata, khususnya di Labuan Bajo, menjadi super-priority, namun manfaatnya belum optimal dirasakan masyarakat luas. Banyak investasi besar di sektor pariwisata premium (hotel, resor) yang mengandalkan tenaga kerja terampil dari luar dan rantai pasok (bahan makanan, material) dari luar NTT.
Akibatnya, sebagian besar devisa dan keuntungan pariwisata mengalami ‘kebocoran’ (leakage) keluar dari daerah. Hal ini menyebabkan dampak berantai (multiplier effect) dari sektor pariwisata terhadap peningkatan pendapatan masyarakat lokal dan UMKM menjadi minim.
Strategi Pengentasan Kemiskinan
Untuk mengatasi ironi ini, diperlukan strategi pengentasan kemiskinan yang lebih terarah dan saksama, yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada distribusi manfaat secara inklusif melalui pengembangan pilar ekonomi, seperti;
Pendidikan yang Relevan. Kurikulum pendidikan di NTT harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja lokal dan nasional. Ini termasuk peningkatan keterampilan teknis dan vokasional yang relevan dengan sektor-sektor unggulan NTT seperti pariwisata, pertanian, dan perikanan.
Pelatihan dan Pengembangan. Program pelatihan dan pengembangan keterampilan harus diperluas dan ditingkatkan, dengan fokus pada peningkatan kompetensi guru, pengembangan materi pembelajaran yang inovatif, dan penyediaan fasilitas pendidikan yang memadai.
Akses yang Merata. Akses terhadap pendidikan berkualitas harus merata di seluruh wilayah NTT, termasuk di daerah-daerah terpencil dan pulau-pulau kecil. Ini memerlukan investasi dalam infrastruktur pendidikan, penyediaan beasiswa, dan program-program afirmasi untuk siswa dari keluarga miskin.
Pemerataan Pembangunan Infrastruktur. Pembangunan infrastruktur yang memadai, seperti jalan, jembatan, listrik, air bersih, dan telekomunikasi, sangat penting untuk menghubungkan wilayah-wilayah terpencil di NTT dengan pusat-pusat ekonomi. Ini akan mempermudah akses terhadap pasar, layanan kesehatan, dan pendidikan.
Pengembangan Ekonomi Lokal. Pengembangan ekonomi lokal harus menjadi prioritas, dengan fokus pada pemberdayaan UMKM, pengembangan produk-produk unggulan daerah, dan peningkatan nilai tambah produk pertanian dan perikanan.
Keterlibatan Masyarakat. Masyarakat lokal harus dilibatkan secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Ini akan memastikan bahwa pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat, serta meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap pembangunan.
Penguatan Rantai Pasok Lokal (Local Value Chain). Pemerintah harus menciptakan kebijakan insentif atau regulasi yang mendorong atau mewajibkan industri pariwisata premium (hotel, restoran) untuk memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal dan membeli komoditas pertanian, perikanan, serta produk kerajinan dari petani, nelayan, dan UMKM NTT.
Pengembangan Keterampilan Hospitality Lokal. Program pelatihan harus secara masif menghasilkan SDM lokal yang siap mengisi posisi kunci dan manajerial di sektor pariwisata, bukan hanya sebagai staf pendukung.
Akselerasi Digitalisasi UMKM. Memfasilitasi UMKM dengan literasi digital dan akses platform e-commerce untuk memotong rantai pasok dan memperluas jangkauan pasar tanpa terbebani biaya logistik fisik yang tinggi.
Dengan strategi yang tepat dan komitmen yang kuat dari semua pihak, provinsi NTT berpotensi mengoptimalkan perekonomiannya agar kemiskinan yang masih “menghantui” wilayah NTT dapat dientaskan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan/***
Sumber:
https://ntt.bps.go.id/id/news/2025/07/25/674/maret-2025–kemiskinan-ntt-turun-menjadi-18-60-.html
https://www.bi.go.id/
https://smeru.or.id/id/publication-id/tantangan-pembangunan-di-nusa-tenggara-timur
https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp/article/download/40398/26327/137971
Riset Shinta, 2017; Mongabay, 2020.
***Penulis: Josef Freinademetz Pain Ndopo/ Siswa Tingkat I, IFTK Ledalero
Editor : Redaksi








