Ironi NTT: Kekayaan Alam dan Potensi Pariwisata Diantara “Hantu” Kemiskinan

- Penulis Berita

Kamis, 30 Oktober 2025 - 07:48 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Josef Freinademetz Pain Ndopo

Josef Freinademetz Pain Ndopo

Isu “Kebocoran” (Leakage) Ekonomi Pariwisata

Meskipun pariwisata, khususnya di Labuan Bajo, menjadi super-priority, namun manfaatnya belum optimal dirasakan masyarakat luas. Banyak investasi besar di sektor pariwisata premium (hotel, resor) yang mengandalkan tenaga kerja terampil dari luar dan rantai pasok (bahan makanan, material) dari luar NTT.

Akibatnya, sebagian besar devisa dan keuntungan pariwisata mengalami ‘kebocoran’ (leakage) keluar dari daerah. Hal ini menyebabkan dampak berantai (multiplier effect) dari sektor pariwisata terhadap peningkatan pendapatan masyarakat lokal dan UMKM menjadi minim.

Strategi Pengentasan Kemiskinan
Untuk mengatasi ironi ini, diperlukan strategi pengentasan kemiskinan yang lebih terarah dan saksama, yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada distribusi manfaat secara inklusif melalui pengembangan pilar ekonomi, seperti;

Pendidikan yang Relevan. Kurikulum pendidikan di NTT harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja lokal dan nasional. Ini termasuk peningkatan keterampilan teknis dan vokasional yang relevan dengan sektor-sektor unggulan NTT seperti pariwisata, pertanian, dan perikanan.

Pelatihan dan Pengembangan. Program pelatihan dan pengembangan keterampilan harus diperluas dan ditingkatkan, dengan fokus pada peningkatan kompetensi guru, pengembangan materi pembelajaran yang inovatif, dan penyediaan fasilitas pendidikan yang memadai.

Baca Juga:  Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial

Akses yang Merata. Akses terhadap pendidikan berkualitas harus merata di seluruh wilayah NTT, termasuk di daerah-daerah terpencil dan pulau-pulau kecil. Ini memerlukan investasi dalam infrastruktur pendidikan, penyediaan beasiswa, dan program-program afirmasi untuk siswa dari keluarga miskin.

Pemerataan Pembangunan Infrastruktur. Pembangunan infrastruktur yang memadai, seperti jalan, jembatan, listrik, air bersih, dan telekomunikasi, sangat penting untuk menghubungkan wilayah-wilayah terpencil di NTT dengan pusat-pusat ekonomi. Ini akan mempermudah akses terhadap pasar, layanan kesehatan, dan pendidikan.

Pengembangan Ekonomi Lokal. Pengembangan ekonomi lokal harus menjadi prioritas, dengan fokus pada pemberdayaan UMKM, pengembangan produk-produk unggulan daerah, dan peningkatan nilai tambah produk pertanian dan perikanan.

Keterlibatan Masyarakat. Masyarakat lokal harus dilibatkan secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Ini akan memastikan bahwa pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat, serta meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap pembangunan.

Baca Juga:  Faith In The Feed: Panggilan Kaum Muda Digital Menjadi Arsitek Damai

Penguatan Rantai Pasok Lokal (Local Value Chain). Pemerintah harus menciptakan kebijakan insentif atau regulasi yang mendorong atau mewajibkan industri pariwisata premium (hotel, restoran) untuk memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal dan membeli komoditas pertanian, perikanan, serta produk kerajinan dari petani, nelayan, dan UMKM NTT.

Pengembangan Keterampilan Hospitality Lokal. Program pelatihan harus secara masif menghasilkan SDM lokal yang siap mengisi posisi kunci dan manajerial di sektor pariwisata, bukan hanya sebagai staf pendukung.

Akselerasi Digitalisasi UMKM. Memfasilitasi UMKM dengan literasi digital dan akses platform e-commerce untuk memotong rantai pasok dan memperluas jangkauan pasar tanpa terbebani biaya logistik fisik yang tinggi.

Dengan strategi yang tepat dan komitmen yang kuat dari semua pihak, provinsi NTT berpotensi mengoptimalkan perekonomiannya agar kemiskinan yang masih “menghantui” wilayah NTT dapat dientaskan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan/***

Sumber:
https://ntt.bps.go.id/id/news/2025/07/25/674/maret-2025–kemiskinan-ntt-turun-menjadi-18-60-.html
https://www.bi.go.id/
https://smeru.or.id/id/publication-id/tantangan-pembangunan-di-nusa-tenggara-timur
https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp/article/download/40398/26327/137971

Riset Shinta, 2017; Mongabay, 2020.

***Penulis: Josef Freinademetz Pain Ndopo/ Siswa Tingkat I, IFTK Ledalero

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Menanti Kejujuran Pengelolaan Parkir di Balik Hilangnya Pasukan Orange
Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab
MEMBUKA POTENSI ASET DAERAH, DORONG PENINGKATAN PAD KABUPATEN ENDE
Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial
Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran
Taman Kota dan Jalan yang Terputus: Ujian Keadilan Pembangunan di Ende Catatan Kecil Untuk Pemkab Ende
Sekolah Sebagai Ruang Singgah Peradaban: Refleksi 50 Tahun SDI Malamude Were
Analisis Kebijakan Affirmative Action, Kuota 30% Keterwakilan Perempuan Di Parlemen
Berita ini 119 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 09:29 WITA

Menanti Kejujuran Pengelolaan Parkir di Balik Hilangnya Pasukan Orange

Selasa, 14 April 2026 - 20:44 WITA

Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:10 WITA

MEMBUKA POTENSI ASET DAERAH, DORONG PENINGKATAN PAD KABUPATEN ENDE

Senin, 9 Februari 2026 - 18:56 WITA

Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:34 WITA

Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran

Berita Terbaru