Hari itu, para pemburu berita hadir di sekolah. Bukan dengan kamera, perekam suara, atau agenda wawancara eksklusif demi mengejar tenggat berita.
Mereka datang tanpa atribut khas wartawan, tapi membawa satu tekad yang jauh lebih bernilai: berbagi pengetahuan dan nurani jurnalistik dari ruang kelas.
Mereka tak sekadar bercerita—bukan sekadar “omon-omon“, tentang suka duka menjadi wartawan di tengah gempuran media sosial dan banjir hoaks.
Mereka menyelami dunia jurnalisme dari sisi paling dasar, dari tempat di mana minat membaca berita di kalangan muda kian memudar.
Sebuah langkah kecil untuk menyalakan kembali semangat literasi dan berpikir kritis.
Kegiatan ini bukan pula sindiran terhadap kurikulum merdeka yang terkadang membutuhkan evaluasi berjenjang.
Ini adalah gerakan nurani dari para pembawa berita untuk membentuk generasi yang paham, kritis, dan mampu memilah informasi secara bijak.
Penulis : Redaksi Narasi NTT
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya








