Bukan Sekadar Belajar Menulis
Bagi banyak siswa, ini adalah pengalaman pertama mereka mengenal dunia media.
Salah satu peserta dari kelas XII bahkan mengaku mulai memahami bahwa menjadi jurnalis bukan sekadar menulis, tapi juga soal keberanian, ketekunan, dan tanggung jawab menyuarakan fakta.
Kepala sekolah SMA Swasta Alsiora yang diwakili Viktor Kota Petu, menyambut baik inisiatif ini. Ia melihat kegiatan tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter dan literasi.
“Ini bukan hanya soal jurnalistik, tapi bagaimana siswa belajar berpikir kritis, menulis dengan baik, dan berani menyampaikannya secara bertanggung jawab,” katanya.
Harapan Pengajar
Di sudut aula, Stefanus Yoakim Veko, yang adalah pengajar mata pelajaran Sejarah, memperhatikan para siswa dengan bangga.
Baginya, pelatihan ini adalah angin segar di tengah rutinitas belajar-mengajar yang kadang terlalu teoritis.
“Kegiatan seperti ini perlu dilakukan secara rutin. Ini sangat membantu siswa memahami dunia nyata, apalagi sekarang informasi begitu cepat berkembang,” ungkapnya.
Ia berharap pelatihan serupa terus digelar di masa mendatang, agar semakin banyak siswa bisa memanfaatkan kesempatan belajar langsung dari para praktisi.
Mungkin pelatihan ini hanya berlangsung sehari. Tapi siapa tahu, dari ruang kecil di Asisiora ini, akan tumbuh jurnalis masa depan yang kritis, berani, dan bertanggung jawab.
Karena setiap berita yang baik, lahir dari pemahaman yang jernih. Dan setiap jurnalis yang baik, pernah memulai dari ruang belajar yang sederhana, seperti hari itu di sebuah sekolah dari Kota Pancasila.
Akhir dari AwalPelatihan jurnalistik ini mungkin hanya berlangsung sehari. Tapi dampaknya bisa jauh lebih panjang.
Barangkali kelak, dari ruang aula kecil itu, akan lahir seorang jurnalis yang mengabarkan dunia dari sudut kecil yang bernama Alisiora di tengah pudarnya julukan ibukota sebagai Kota Pelajar.
Dan semua itu dimulai dari hari ini saat mereka belajar menulis dari hati, untuk menyuarakan kebenaran./***
Penulis : Redaksi Narasi NTT








