Ende dan Cermin Retak Kemanusiaan Kita

- Penulis Berita

Kamis, 6 November 2025 - 13:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Richard B. Toulwala, S. Fil., M.Si

Richard B. Toulwala, S. Fil., M.Si

Masyarakat tanpa rasa adalah masyarakat yang dingin. Manusia jenis itu bisa menyaksikan kekerasan tanpa terguncang, atau menertawakannya di media sosial seolah itu tontonan.

OPINI- Dalam sepekan terakhir, Kabupaten Ende diguncang dua tragedi kemanusiaan sekaligus.

Seorang oknum polisi merenggut nyawa seorang penyandang disabilitas, dan beberapa hari kemudian, terjadi penusukan hingga tewas di depan Kompi C.

Dua peristiwa itu mengguncang rasa kemanusiaan publik, karena keduanya terjadi di ruang sosial yang kecil, dalam waktu berdekatan, dan memperlihatkan betapa mudahnya nyawa manusia dihapus tanpa rasa gentar.

Sekilas keduanya tampak sebagai kasus kriminal yang berdiri sendiri. Namun bila dibaca dari perspektif sosial, dua tragedi ini memantulkan retakan yang sama dalam tubuh masyarakat kita.

Retaknya rasa empati, menurunnya kontrol sosial, dan menguatnya kebudayaan kekerasan di tingkat akar rumput.

Di titik ini, yang sedang kita hadapi bukan sekadar kejahatan, melainkan krisis kemanusiaan yang bersifat struktural dan moral.

Kekerasan Menjadi Bahasa Sosial

Dalam banyak kasus sosial, kekerasan bukan hanya hasil dari niat jahat individu, tetapi cara masyarakat yang frustrasi mengekspresikan dirinya. Ketika tekanan ekonomi meningkat, ruang sosial menyempit, dan saluran ekspresi tak tersedia, maka kekerasan muncul sebagai bentuk “komunikasi ekstrem”.

Pada level pemahaman ini, kekerasan menjadi cara terakhir manusia untuk merasa berkuasa di tengah dunia yang semakin menindasnya.

Sosiolog Emile Durkheim menyebut situasi semacam ini sebagai anomie, yakni sebuah kondisi ketika norma sosial melemah dan individu kehilangan arah moral. Dalam situasi anomie, masyarakat kehilangan kemampuan untuk menilai baik dan buruk, sementara individu kehilangan rem moral untuk mengendalikan diri.

Kita bisa melihat gejala itu dalam dua peristiwa di Ende. Ketika manusia lebih cepat menghunus senjata atau pisau daripada berbicara, maka itu bukan sekadar kemarahan spontan melainkan tanda bahwa nilai sosial kita telah kehilangan keseimbangannya.

Kekerasan menjadi bahasa yang menggantikan dialog, dan amarah menjadi bentuk baru dari komunikasi sosial.

Krisis Keteladanan dan Hilangnya Rasa Aman

Tragedi pertama, pembunuhan oleh oknum polisi terhadap seorang difabel, membawa luka sosial yang lebih dalam. Sebab di dalamnya terkandung pengkhianatan terhadap fungsi dasar lembaga hukum.

Baca Juga:  Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran

Aparat negara adalah simbol ketertiban dan pelindung publik, jadi ketika simbol itu berubah menjadi pelaku, maka rusaklah sendi kepercayaan sosial.

Secara sosiologis, hal ini menimbulkan mistrust (ketidakpercayaan publik) terhadap institusi yang mestinya menjamin rasa aman.

Dan begitu kepercayaan itu hilang, masyarakat akan mencari pegangan lain. Sebagian berpegang pada adat, sebagian pada solidaritas kecil, dan sebagian lagi mungkin pada keputusasaan.

Dari sisi moral, peristiwa ini juga menyentuh ranah paling dalam dari filsafat kemanusiaan.

Dalam filsafat tentang ‘yang lain’, Emmanuel Levinas menjelaskan bahwa “Wajah orang lain adalah perintah moral itu sendiri.” Artinya, dalam wajah manusia lain, kita diingatkan untuk bertanggung jawab atas kehidupan yang bukan milik kita.

Ketika seorang aparat yang diberi kuasa untuk melindungi malah menghapus kehidupan seorang difabel, maka ia tidak hanya membunuh orang lain, tetapi juga membunuh kemanusiaannya sendiri.

Mabuk, Modernitas, Kontrol Sosial, dan Kehilangan Rasa

Dalam kasus pertama, faktor konsumsi alkohol disebut sebagai pemicu utama. Tapi miras di sini hanyalah katalis, bukan sebab tunggal. Alkohol mempercepat reaksi yang sebetulnya sudah lama tersimpan dalam tubuh sosial kita seperti marah, frustrasi, dan kehilangan arah nilai.

Modernisasi membawa banyak kemajuan, tetapi juga merapuhkan nilai-nilai lama. Masyarakat yang dulu hidup dalam ikatan adat, gotong royong, dan kekerabatan kini makin cair dan individualistis. Dalam bahasa Clifford Geertz, “makna sosial kita terfragmentasi.”

Akibatnya, pengawasan sosial yang dulu dijalankan oleh tokoh adat atau tetangga, kini makin hilang. Orang tidak lagi menegur, hanya menatap dari jauh. Masyarakat yang berhenti menegur adalah masyarakat yang mulai berhenti peduli.

Kita bisa melihat ini di banyak wilayah di Flores, termasuk Ende. Miras bukan sekadar masalah moral, tapi simptom dari kehilangan keseimbangan sosial. Ketika ruang rekreasi sehat tidak tersedia, dan tekanan hidup meningkat, alkohol menjadi pelarian kolektif. Ia menawarkan kelupaan, tapi melahirkan kekerasan.

Lebih dari sekadar hukum dan moral, dua tragedi ini menyingkap kehilangan yang lebih subtil, yakni kehilangan rasa malu, rasa hormat, rasa takut kepada nilai luhur, bahkan rasa empati terhadap penderitaan orang lain.

Baca Juga:  Pembangunan Berkelanjutan atau Eksploitasi Terselubung?

Masyarakat tanpa rasa adalah masyarakat yang dingin. Manusia jenis itu bisa menyaksikan kekerasan tanpa terguncang, atau menertawakannya di media sosial seolah itu tontonan.

Inilah yang disebut filsuf Jerman, Hannah Arendt sebagai banalitas kejahatan. Sebuah kejahatan tidak lagi terasa jahat karena ia terlalu sering terjadi dan terlalu mudah dimaafkan.

Berkaca Pada Kemanusiaan yang Retak

Apa yang bisa kita lakukan? Membangun kembali kemanusiaan sosial tidak bisa hanya dengan menambah aturan atau hukuman. Ia harus dimulai dari revitalisasi nilai sosial dan etika publik.

Sekolah dan agama-agama perlu menanamkan kembali pendidikan moral dan empati, bukan sekadar hafalan nilai. Pemerintah daerah perlu memperkuat ruang-ruang dialog sosial dan kampanye anti-kekerasan berbasis komunitas.

Tokoh adat dan tokoh agama perlu mengambil kembali peran sosialnya, bukan hanya sebagai penjaga tradisi, tapi sebagai penjaga nurani sosial.

Di atas semuanya, setiap individu perlu kembali belajar untuk menjadi manusia di hadapan manusia lain. Karena di balik setiap tindak kekerasan, sesungguhnya ada satu pelajaran yang kita abaikan. Bahwasannya hidup manusia bukan milik kita untuk dihabisi, tetapi amanah yang harus dijaga dengan rasa hormat.

Dua pembunuhan dalam sepekan di Ende bukan hanya soal kriminalitas, tetapi cermin yang memantulkan wajah kita sendiri. Barangkali kita telah terlalu lama membiarkan kebencian tumbuh di ruang-ruang sosial, membiarkan mabuk dan kemarahan menjadi ekspresi utama dari frustrasi.

Kini ketika darah tertumpah di tanah yang pernah dijaga oleh adat dan iman, kita mesti bertanya, apakah yang sedang kita bangun ini masih masyarakat, atau hanya sekumpulan individu yang kehilangan rasa?

Ende tidak sedang membutuhkan lebih banyak aparat bersenjata, tapi lebih banyak manusia yang sadar akan nilai hidup dan kasih. Sebab sebagaimana diingatkan Levinas, kemanusiaan bukan ditemukan di dalam diri sendiri, melainkan dalam tatapan terhadap yang lain.

Dan jika kita telah kehilangan kemampuan untuk menatap, maka kita sedang berjalan menuju kegelapan sosial yang lebih dalam.

Penulis : Richard B. Toulwala, S. Fil., M.Si/ Dosen STPM St. Ursula-Ende

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Menanti Kejujuran Pengelolaan Parkir di Balik Hilangnya Pasukan Orange
Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab
MEMBUKA POTENSI ASET DAERAH, DORONG PENINGKATAN PAD KABUPATEN ENDE
Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial
Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran
Taman Kota dan Jalan yang Terputus: Ujian Keadilan Pembangunan di Ende Catatan Kecil Untuk Pemkab Ende
Sekolah Sebagai Ruang Singgah Peradaban: Refleksi 50 Tahun SDI Malamude Were
Analisis Kebijakan Affirmative Action, Kuota 30% Keterwakilan Perempuan Di Parlemen
Berita ini 185 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 09:29 WITA

Menanti Kejujuran Pengelolaan Parkir di Balik Hilangnya Pasukan Orange

Selasa, 14 April 2026 - 20:44 WITA

Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:10 WITA

MEMBUKA POTENSI ASET DAERAH, DORONG PENINGKATAN PAD KABUPATEN ENDE

Senin, 9 Februari 2026 - 18:56 WITA

Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:34 WITA

Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran

Berita Terbaru

Daerah

Gelar RUPS di Ende, Berikut Agenda Penting Bank NTT

Jumat, 15 Mei 2026 - 11:40 WITA