Ia menjelma menjadi pengalaman sehari-hari tentang keterbatasan, rasa malu, dan ketakutan akan penilaian sosial.
Dalam masyarakat yang memuja pendidikan sebagai jalan keluar dari kemiskinan, anak-anak miskin justru sering menjadi korban paling awal dari kegagalan sistem pendidikan itu sendiri.
Ketika sekolah menuntut kelengkapan administratif tanpa memahami konteks sosial murid, pendidikan berubah dari ruang emansipasi menjadi arena penyingkiran simbolik.
Anak belajar sejak dini bahwa kekurangan bukan hanya soal tidak punya, tetapi soal menjadi tidak setara.Tragedi ini juga membuka luka lama tentang sunyinya ruang emosional bagi anak-anak di banyak keluarga dan komunitas.
Anak masih kerap diposisikan sebagai objek pengasuhan, bukan subjek yang memiliki pengalaman batin yang sah. Kesedihan anak dianggap berlebihan, kecemasan dianggap manja, dan ketakutan dianggap belum waktunya.
Padahal, anak merasakan tekanan sosial secara penuh, meski belum memiliki bahasa untuk menjelaskannya. Ketika perasaan itu tidak mendapatkan pengakuan, ia tidak menghilang, tetapi bertransformasi menjadi keputusasaan yang tidak terlihat.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya







