Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran

- Penulis Berita

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Patrisius Boots/Fotto: Istimewa

Patrisius Boots/Fotto: Istimewa

Ia menjelma menjadi pengalaman sehari-hari tentang keterbatasan, rasa malu, dan ketakutan akan penilaian sosial.

Dalam masyarakat yang memuja pendidikan sebagai jalan keluar dari kemiskinan, anak-anak miskin justru sering menjadi korban paling awal dari kegagalan sistem pendidikan itu sendiri.

Ketika sekolah menuntut kelengkapan administratif tanpa memahami konteks sosial murid, pendidikan berubah dari ruang emansipasi menjadi arena penyingkiran simbolik.

Baca Juga:  Geotermal Mataloko: Antara Potensi Hijau dan Suara Keresahan Masyarakat

Anak belajar sejak dini bahwa kekurangan bukan hanya soal tidak punya, tetapi soal menjadi tidak setara.Tragedi ini juga membuka luka lama tentang sunyinya ruang emosional bagi anak-anak di banyak keluarga dan komunitas.

Anak masih kerap diposisikan sebagai objek pengasuhan, bukan subjek yang memiliki pengalaman batin yang sah. Kesedihan anak dianggap berlebihan, kecemasan dianggap manja, dan ketakutan dianggap belum waktunya.

Baca Juga:  Pengalihan Anggaran, Apakah Penyimpangan Atau Bukan?

Padahal, anak merasakan tekanan sosial secara penuh, meski belum memiliki bahasa untuk menjelaskannya. Ketika perasaan itu tidak mendapatkan pengakuan, ia tidak menghilang, tetapi bertransformasi menjadi keputusasaan yang tidak terlihat.

Berita Terkait

Menanti Kejujuran Pengelolaan Parkir di Balik Hilangnya Pasukan Orange
Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab
MEMBUKA POTENSI ASET DAERAH, DORONG PENINGKATAN PAD KABUPATEN ENDE
Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial
Taman Kota dan Jalan yang Terputus: Ujian Keadilan Pembangunan di Ende Catatan Kecil Untuk Pemkab Ende
Sekolah Sebagai Ruang Singgah Peradaban: Refleksi 50 Tahun SDI Malamude Were
Analisis Kebijakan Affirmative Action, Kuota 30% Keterwakilan Perempuan Di Parlemen
Ende dan Cermin Retak Kemanusiaan Kita
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 09:29 WITA

Menanti Kejujuran Pengelolaan Parkir di Balik Hilangnya Pasukan Orange

Selasa, 14 April 2026 - 20:44 WITA

Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:10 WITA

MEMBUKA POTENSI ASET DAERAH, DORONG PENINGKATAN PAD KABUPATEN ENDE

Senin, 9 Februari 2026 - 18:56 WITA

Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:34 WITA

Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran

Berita Terbaru

Jajaran Bawaslu Ende Saat Audiens Bersama Bupati Ende/ foto: Fide Dari

Daerah

Resmi Berstatus Satker Bawaslu Ende Siap Tempati Kantor Baru

Senin, 29 Jun 2026 - 11:56 WITA