Lebih jauh, tragedi ini mengungkap kegagalan kolektif kita sebagai masyarakat. Komunitas yang selama ini dibanggakan sebagai ruang kebersamaan ternyata belum tentu menjadi ruang aman emosional bagi anak.
Solidaritas sosial sering kali bekerja pada level material, tetapi absen pada level psikologis.
Kita terbiasa membantu ketika ada kebutuhan fisik, tetapi gagap ketika berhadapan dengan luka batin.
Jika tragedi ini hanya dimaknai sebagai peristiwa luar biasa yang menyedihkan, maka kita sedang menghindari tanggung jawab.
Bunuh diri anak di Ngada bukan anomali, melainkan cermin dari normalitas yang timpang—normalitas yang membiarkan kemiskinan menekan jiwa anak, membiarkan sekolah menjadi ruang seleksi sosial, dan membiarkan negara hadir setelah segalanya terlambat.
Pertanyaan paling mendesak bukanlah mengapa seorang anak memilih mengakhiri hidupnya, melainkan mengapa kehidupan terasa begitu tak mungkin dijalani oleh seorang anak.
Selama pertanyaan itu tidak dijawab dengan perubahan nyata, setiap ungkapan duka hanyalah pengulangan sunyi dari kegagalan yang sama/****







