Polarisasi membuat orang lebih mudah mempercayai informasi yang menguatkan keyakinannya, dan menolak fakta yang mengganggu kenyamanannya.
Dalam situasi seperti ini, kerja jurnalistik sering kali tidak lagi dinilai dari ketepatan datanya, tetapi dari kesesuaiannya dengan posisi politik pembaca.
Di sinilah kepercayaan publik terhadap pers menghadapi ujian berat. Ketika setiap berita dicurigai memiliki agenda, ketika kritik dianggap keberpihakan, dan ketika klarifikasi dianggap pembelaan, maka pers berjalan di medan yang penuh ranjau persepsi. Padahal, tanpa kepercayaan, jurnalisme kehilangan daya hidupnya.
Ia mungkin tetap terbit, tetapi tak lagi didengar. Bagi daerah seperti Nusa Tenggara Timur, situasi ini memiliki lapisan makna yang lebih dalam.
Di wilayah yang masih bergulat dengan isu kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan ketimpangan pembangunan, pers lokal sering menjadi satu-satunya pengeras suara bagi mereka yang tak memiliki akses ke pusat kekuasaan.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya







