Kalau demikian yang terjadi, maka YUBILEUM lebih tepat kita sebut tahun kepercumaan, mungkin seperti orang-orang Yahudi meniupkan terompet dari ‘tanduk domba jantan’, yang kedengaran sebentar saja lalu pergi ditelan angin.
Di Nangahale, Sikka, YUBILEUM adalah gegundahan tanpa tepi. Di Nangahale, YUBILEUM adalah pertanyaan yang selalu ditabrak dengan KEPENTINGAN. Ya, percuma bertanya. Toh, itu akhirnya sampai pada titik aporia (jalan buntu).
Biasanya, di hadapan kepentingan yang berkelindan dengan politik kekuasaan, dengan judul yang sangat mulia sekalipun (kata Herodes, “kamu pergi dulu, nanti setelah kamu pulang saya pergi menyembahNya”), air mata akan selalu dianggap sandiwara atau aksi makan tanah akan dilihat sebagai pencitraan.
Ya sesederhana itu ‘anggapan anggapan klise’ yang sekalipun tak pernah dikenal di kalangan jelata, akan dibikin seolah ada pada mereka. Malah, yang jelata bisa dianggap SAMPAH, yang harus diurus TUNTAS, tanpa sisa.
Penulis : Pater Charles Beraf SVD, Pastor Paroki Detukeli Ende
Editor : Narasi NTT
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya







