Yubileum, Nangahale dan Bulldozer Pongah

- Penulis Berita

Selasa, 28 Januari 2025 - 02:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Nangahale, Sikka NTT Menangis di tengah Penggusuran oleh Pt. Krisrama/Sumber:NN

Warga Nangahale, Sikka NTT Menangis di tengah Penggusuran oleh Pt. Krisrama/Sumber:NN

Saya memang tak mengerti HUKUM POSITIF. Hanya tahu dan mau berjuang terus menjalankan HUKUM KASIH, yang melampaui kotak kepentingan dan kotak suku. Saya beternak, tapi bukan seorang pebisnis ternak. Saya berkebun, tapi bukan seorang pengepul.

Sebagai imam,saya mungkin PALING BERDOSA di kalangan para imam. Yang berusaha agar melalui Ternak dan Kebun saya menemukan JALAN PULANG ke hati umat. Ya JALAN LAIN, agar HERODES tidak sampai ke BETLEHEM.

Baca Juga:  Sekolah Sebagai Ruang Singgah Peradaban: Refleksi 50 Tahun SDI Malamude Were

Yang saya tahu sebagai imam dari HUKUM KASIH adalah SALUS ANIMARUM, keselamatan jiwa-jiwa, ya. Dan saya lakukan dengan cara sederhana, antara lain KEBUN dan TERNAK.

Sekali lagi, kebun dan ternak adalah  jalan pulang, tempat saya berziarah, membangun harapan agar mereka yang lain turut pulang dan mengalami salus, keselamatan.

Baca Juga:  Analisis Kebijakan Affirmative Action, Kuota 30% Keterwakilan Perempuan Di Parlemen

Tapi hari – hari ini saya galau ketika tahu bahwa di gerbang tahun YUBILEUM, riuh suara gembala hilang oleh deru Bulldozer di Nangahale.

Apakah para raja sedang berbelok arah, menyimpang dari tuntunan Sang Bintang?

Entahlah! Tapi saya ingat kata-kata Paus Fransiskus, ketika merayakan 100 tahun Maximum Illud: “Misi awal Katolik selalu tak bebas dari bias kolonialisme”/***

Penulis : Pater Charles Beraf SVD, Pastor Paroki Detukeli Ende

Editor : Narasi NTT

Berita Terkait

Menanti Kejujuran Pengelolaan Parkir di Balik Hilangnya Pasukan Orange
Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab
MEMBUKA POTENSI ASET DAERAH, DORONG PENINGKATAN PAD KABUPATEN ENDE
Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial
Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran
Taman Kota dan Jalan yang Terputus: Ujian Keadilan Pembangunan di Ende Catatan Kecil Untuk Pemkab Ende
Sekolah Sebagai Ruang Singgah Peradaban: Refleksi 50 Tahun SDI Malamude Were
Analisis Kebijakan Affirmative Action, Kuota 30% Keterwakilan Perempuan Di Parlemen
Berita ini 111 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 09:29 WITA

Menanti Kejujuran Pengelolaan Parkir di Balik Hilangnya Pasukan Orange

Selasa, 14 April 2026 - 20:44 WITA

Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:10 WITA

MEMBUKA POTENSI ASET DAERAH, DORONG PENINGKATAN PAD KABUPATEN ENDE

Senin, 9 Februari 2026 - 18:56 WITA

Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Pers Di Tengah Gempuran Media Sosial

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:34 WITA

Ngada dan Dosa Terhadap Anak Pinggiran

Berita Terbaru

Jajaran Bawaslu Ende Saat Audiens Bersama Bupati Ende/ foto: Fide Dari

Daerah

Resmi Berstatus Satker Bawaslu Ende Siap Tempati Kantor Baru

Senin, 29 Jun 2026 - 11:56 WITA