Saya memang tak mengerti HUKUM POSITIF. Hanya tahu dan mau berjuang terus menjalankan HUKUM KASIH, yang melampaui kotak kepentingan dan kotak suku. Saya beternak, tapi bukan seorang pebisnis ternak. Saya berkebun, tapi bukan seorang pengepul.
Sebagai imam,saya mungkin PALING BERDOSA di kalangan para imam. Yang berusaha agar melalui Ternak dan Kebun saya menemukan JALAN PULANG ke hati umat. Ya JALAN LAIN, agar HERODES tidak sampai ke BETLEHEM.
Yang saya tahu sebagai imam dari HUKUM KASIH adalah SALUS ANIMARUM, keselamatan jiwa-jiwa, ya. Dan saya lakukan dengan cara sederhana, antara lain KEBUN dan TERNAK.
Sekali lagi, kebun dan ternak adalah jalan pulang, tempat saya berziarah, membangun harapan agar mereka yang lain turut pulang dan mengalami salus, keselamatan.
Tapi hari – hari ini saya galau ketika tahu bahwa di gerbang tahun YUBILEUM, riuh suara gembala hilang oleh deru Bulldozer di Nangahale.
Apakah para raja sedang berbelok arah, menyimpang dari tuntunan Sang Bintang?
Entahlah! Tapi saya ingat kata-kata Paus Fransiskus, ketika merayakan 100 tahun Maximum Illud: “Misi awal Katolik selalu tak bebas dari bias kolonialisme”/***
Penulis : Pater Charles Beraf SVD, Pastor Paroki Detukeli Ende
Editor : Narasi NTT







