Mimpi Sederhana: Jalan ke Kampung Halaman
Bagi orang kota, jalan darat adalah hal yang biasa. Sebuah kemewahan yang sering tidak disadari. Tetapi bagi warga Kekasewa dan Nila, jalan darat adalah mimpi sederhana yang sudah puluhan tahun tertunda.
Mereka membayangkan suatu hari kendaraan bisa melintas di desa mereka. Anak-anak berangkat sekolah dengan sepeda motor atau angkutan umum, hasil kebun bisa sampai ke pasar tanpa harus menunggu ombak bersahabat, orang sakit bisa segera ditangani di rumah sakit.
“Kalau ada jalan, mungkin hidup kami bisa berubah. Hasil kelapa bisa dijual dengan harga lebih baik. Anak-anak bisa sekolah lebih tinggi. Kami juga bisa sering ke kota, tidak perlu takut laut,” kata Maria sambil menatap ke laut lepas.
Merdeka yang Belum Sepenuhnya Dirasakan
Kemerdekaan bagi warga Kekasewa dan Nila bukan sekadar bisa mengibarkan bendera merah putih setiap 17 Agustus. Bagi mereka, kemerdekaan berarti bisa menikmati pembangunan yang merata. Kemerdekaan berarti tidak perlu lagi bertaruh nyawa di laut untuk mendapatkan pelayanan dasar.
Delapan puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Namun di sudut selatan Ndona, ada ribuan warga yang masih terasing, masih menunggu jalan darat yang dijanjikan.
Selama jalan itu belum ada, setiap perjalanan mereka akan tetap diiringi doa: semoga laut selatan hari ini bersahabat, semoga mereka pulang dengan selamat.
Penulis : Redaksi Narasi NTT







