Belum Merdeka, Warga Selatan Harus Bertaruh Nyawa

Avatar photo

- Penulis Berita

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sampan kecil yang mengangkut warga Desa Kekasewa dan Desa Nila Kecamatan Ndona terbalik dihantam gelombang laut Selatan. /foto: Tores

Sampan kecil yang mengangkut warga Desa Kekasewa dan Desa Nila Kecamatan Ndona terbalik dihantam gelombang laut Selatan. /foto: Tores

Mimpi Sederhana: Jalan ke Kampung Halaman

Bagi orang kota, jalan darat adalah hal yang biasa. Sebuah kemewahan yang sering tidak disadari. Tetapi bagi warga Kekasewa dan Nila, jalan darat adalah mimpi sederhana yang sudah puluhan tahun tertunda.

Mereka membayangkan suatu hari kendaraan bisa melintas di desa mereka. Anak-anak berangkat sekolah dengan sepeda motor atau angkutan umum, hasil kebun bisa sampai ke pasar tanpa harus menunggu ombak bersahabat, orang sakit bisa segera ditangani di rumah sakit.

Baca Juga:  Luka Lucky, Luka Kita Semua

“Kalau ada jalan, mungkin hidup kami bisa berubah. Hasil kelapa bisa dijual dengan harga lebih baik. Anak-anak bisa sekolah lebih tinggi. Kami juga bisa sering ke kota, tidak perlu takut laut,” kata Maria sambil menatap ke laut lepas.

Merdeka yang Belum Sepenuhnya Dirasakan


Kemerdekaan bagi warga Kekasewa dan Nila bukan sekadar bisa mengibarkan bendera merah putih setiap 17 Agustus. Bagi mereka, kemerdekaan berarti bisa menikmati pembangunan yang merata. Kemerdekaan berarti tidak perlu lagi bertaruh nyawa di laut untuk mendapatkan pelayanan dasar.

Baca Juga:  Mie Pedas NL Canteen di Kampus 2 IFTK Ledalero, Pedasnya Bikin Nagih

Delapan puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Namun di sudut selatan Ndona, ada ribuan warga yang masih terasing, masih menunggu jalan darat yang dijanjikan.

Selama jalan itu belum ada, setiap perjalanan mereka akan tetap diiringi doa: semoga laut selatan hari ini bersahabat, semoga mereka pulang dengan selamat.

Penulis : Redaksi Narasi NTT

Berita Terkait

Derai Hujan di Puing Harapan Asra Dewi, Jurnalis Bergerak Bentuk “Koin Untuk Ende”
Pice Kota, Lagu Gawi dan Air Mata Haru; Pesan Rindu Untuk Tetap Terhubung Dengan Tanah Leluhur
Luka Lucky, Luka Kita Semua
Pesan Cinta Kapolres Ende, Mengawal Semangat Kemerdekaan dari Jalan ke Hati Warga
Menulis dari Sekolah: Upaya Kecil Menumbuhkan Jurnalis Muda di Alsiora
Teriakan dari Desa Habi: Proyek Air Minum Miliaran Rupiah Gagal, Warga Merana, Jaksa Harus Segera Bertindak
SuperSUN, Sinar Harapan Baru Warga Kalamba
DPR Ende Vs Pemda, Bupati Diganti Wakil; Dua Kubu Satu Bola
Berita ini 212 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 10 Oktober 2025 - 12:34 WITA

Derai Hujan di Puing Harapan Asra Dewi, Jurnalis Bergerak Bentuk “Koin Untuk Ende”

Senin, 29 September 2025 - 16:10 WITA

Pice Kota, Lagu Gawi dan Air Mata Haru; Pesan Rindu Untuk Tetap Terhubung Dengan Tanah Leluhur

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:47 WITA

Belum Merdeka, Warga Selatan Harus Bertaruh Nyawa

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 15:32 WITA

Luka Lucky, Luka Kita Semua

Jumat, 8 Agustus 2025 - 11:15 WITA

Pesan Cinta Kapolres Ende, Mengawal Semangat Kemerdekaan dari Jalan ke Hati Warga

Berita Terbaru

Opini

Dialog Menyatu; Solusi Terwujud Untuk Ndao Yang Beradab

Selasa, 14 Apr 2026 - 20:44 WITA