Pagi itu, Kamis (7/08/2025) lalu lintas di sekitar titik pembagian menjadi berbeda. Klakson kendaraan berpadu dengan sapaan “Selamat pagi” dari para polisi.
Beberapa pengendara, begitu menerima bendera, langsung memasangnya di spion motor, sementara yang lain menempelkannya di kaca depan mobil.
“Kegiatan ini bukan sekadar simbol perayaan. Ini upaya nyata menumbuhkan rasa cinta Tanah Air serta semangat patriotisme dan nasionalisme di tengah masyarakat,” kata Kapolres
Bagi banyak orang, bendera itu mungkin hanya sehelai kain kecil. Tapi bagi mereka yang menerimanya pagi itu, ada makna yang jauh lebih besar.
“Saya senang sekali. Bangga jadi orang Indonesia,” ujar seorang seorang pengendara yang melintas di Simpang Pelni.
Dari sudut jalan, tampak anak-anak yang ikut tersenyum melihat kendaraan satu per satu membawa kibaran Merah Putih.
Jalanan pun seperti berpakaian seragam merah untuk keberanian, putih untuk kesucian.
Sebuah pemandangan yang jarang terlihat di luar bulan Agustus.
Bagi Polres Ende, ini adalah cara sederhana namun bermakna untuk menghidupkan kembali semangat kemerdekaan, tidak hanya pada momen peringatan HUT RI, tetapi juga dalam keseharian.
Karena, seperti kata Kapolres, “Semangat itu harus terus kita bawa, ke mana pun kita pergi.”
Menjelang siang, bendera-bendera kecil itu sudah berkibar di banyak kendaraan yang melintasi jalan-jalan Ende.
Angin yang mengibarkannya seolah membawa pesan yang sama kepada setiap orang yang melihat: kemerdekaan bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan napas yang harus terus dijaga.
Di tengah hiruk pikuk keseharian, selembar kain merah putih yang sederhana bisa menjadi pengingat bahwa kita semua terikat dalam satu cerita besar, cerita tentang bangsa yang merdeka karena keberanian, dan berdiri karena persatuan.
Di jalan-jalan Kota Ende hari itu, merah putih berkibar di setiap sudut.
Penulis : Redaksi Narasi NTT
Halaman : 1 2







