OPINI, NARASINTT. COM- Kasus bunuh diri seorang anak di Ngada seharusnya mengguncang lebih dari sekadar emosi publik. Ia mestinya mengguncang cara kita memahami kemiskinan, pendidikan, dan perlindungan anak.
Ketika seorang anak mengakhiri hidupnya hanya karena tidak memiliki buku dan alat tulis, persoalannya jelas bukan pada benda-benda itu, melainkan pada struktur sosial yang membiarkan anak memikul beban hidup orang dewasa sendirian.
Narasi yang beredar terlalu cepat menyederhanakan tragedi ini sebagai persoalan keluarga miskin atau kegagalan orang tua.
Cara pandang seperti ini berbahaya karena mengalihkan perhatian dari masalah yang lebih mendasar: absennya sistem pendukung psikososial bagi anak-anak di wilayah pinggiran.
Anak itu tidak mati karena tidak punya buku, tetapi karena tidak melihat harapan, tidak menemukan ruang aman untuk berbicara, dan tidak merasakan kehadiran siapa pun yang sungguh-sungguh mendengarnya.
Upaya menjelaskan tragedi ini secara sederhana—dengan menyalahkan kondisi ekonomi keluarga atau keterbatasan orang tua—adalah bentuk kekerasan lanjutan.
Cara pandang seperti itu menempatkan tragedi ini sebagai kegagalan individual, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah kegagalan struktural.
Anak itu tidak memilih bunuh diri karena tidak memiliki buku, tetapi karena ia hidup dalam dunia yang terus-menerus mengirimkan pesan bahwa ia tertinggal, merepotkan, dan tidak cukup pantas untuk bermimpi.
Buku dan pulpen hanyalah pemicu terakhir dari akumulasi rasa tidak berdaya yang sudah lama menumpuk.Kemiskinan dalam konteks ini bekerja jauh melampaui soal pendapatan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya







